Skip to main content

Valentine!

First of all… Happy Valentine’s Day! :D

Saya merayakan Valentine dengan dinner romantis… berlima belas! :)) Thanks to Felix yang udah koordinir Valentine Dinner for The Jojoba (alias Jomblo-Jomblo Bahagia – meski nggak semua pesertanya jomblo karena ada dua yang pacarnya di Indonesia dan satu lagi yang… hihihi, sudahlah) di Medzs at Orchard Central. 

Anyway, semua yang ikutan dinner teman-teman gereja saya di sini, and it was totally FUN! Kita pada meng-hacked BB satu sama lain (cara yang aneh untuk merayakan Valentine sih -_-) dengan cara mengganti display name dan status. Saya juga jadi korban, padahal BB cuma ditinggal sebentar buat ambil makanan. Bener-bener deh ya, kalau lagi sama anak-anak Xplode, do not leave your BlackBerry unattended!

Lihat nih display name saya… Selama dua tahun lebih pakai BB ini, saya nggak pernah sekali pun ganti display name (ya cuma Stephanie Zen gitu), eeh cuma dalam dua belas menit di tangan Felix, Kenny, dan Jovi, sudah tiga kali ganti display name galau dan satu status ngaco. Ampun deh! -_-

Sempat-sempatnya Jovi memotret recent updates di BB-nya ini -_-

Tapi paling kasihan si Melvin, display namenya diganti “Melvin Wongso lagi cari cewe buat Valentine”, yang membuat mamanya langsung BBM, “are you looking for girlfriend???” plus nge-PING beberapa kali, sampai-sampai Melvin harus telepon mamanya buat klarifikasi :))

Ngomong-ngomong soal Melvin, dia salah satu cowok yang bikin saya klepek-klepek pas Val Day kemarin. Eits, jangan salah dulu, Melvin masih 16 tahun kok, dan sudah saya anggap adik sendiri, hehehe. Nah, saya – dan lima cewek yang ikut dinner kemarin – klepek-klepeknya karena saat kita makan ada waiter Medzs yang nawarin red roses gitu (harganya S$ 6 atau Rp 42.000/tangkai), dan Melvin belikan lho buat kita berenam! Kyaaaaa! Asli ya, kita cewek-cewek langsung speechless gitu, semua pada “aaaw, Melvin, so sweeeeet!”, and felt extra special (we are, indeed, but Melvin affirmed it :D) because of that. Thank you for the flowers, Melvin!

Searah jarum jam: Cindy, me, Eliz, Dephola, Yohanna, Jovi. Pic taken by Melvin using Yohanna's iPhone.

Tapi, Melvin bukan satu-satunya cowok “young and dangerous” yang “beraksi” kemarin. Waktu makan, saya pesan pizza. William (11 year old boy, adiknya Kenny and Rayner), yang duduk di sebelah saya, juga pesan pizza yang sama. Then Jovi – roommate saya yang kemarin duduk di depan saya – pesan grilled salmon, dan membaginya sedikit di piring saya untuk dicicipi. Dan terjadilah dialog seperti berikut…

William (melihat salmon di piring saya): Kok ada ikannya? *dia bingung kali ya, dia pesan pizza yang sama kok nggak dapat ikan :p*
Me: Iya, dikasih sama Jovi… (sambil nunjuk piring Jovi)
William: Ooh… aku pikir kamu dikasih sama pelayannya, soalnya menurutnya kamu cantik
Me: *leleh jadi genangan air di lantai*

GOSH!!! Cowok-cowok “young and dangerous” ini… they are too sweet! Hahaha! Terus si Kenny dan Rayner bertanya ada apa, ya saya cerita lah bagaimana adik mereka telah melelehkan hati saya, dan mereka pada geleng-geleng kepala! Wuakakak! Lalu saya nanya lagi:

Me: William, kamu kelahiran tahun berapa?
William: 2001
Me: Kalau gitu aku kelahiran 2002 deh… *sambil kedip-kedip genit*

Hahaha, ini semua cuma bercanda kok ;) Tapi asli saya, this year’s Valentine was so colorful and unforgettable because of 11 and 16 year old boys! Hihihi…

Satu lagi yang kocak kemarin… di Medzs tiap ada yang ultah kan dikasih kejutan dengan dibawain kue yang dipasangi lilin plus dinyanyikan happy birthday oleh para stafnya (kuenya beli di Medzs situ juga sih, satu slice cheesecake or apa yang harganya sekitar S$ 5 gitu), dan kemarin kebetulan meja seberang lagi ada yang ultah gitu. 

Gara-gara lihat itu, pikiran usil saya timbul. Saya berniat ngisengin salah satu teman saya dengan beli kue dan pesan staf Medzs untuk nyanyi happy birthday gitu, pura-puranya teman saya itu ulang tahun, padahal nggak! Then saya kongkalikong sama yang lainnya, dan kita sepakat yang akan jadi korban adalah si Wiwin :))

Sayang, Wiwin kayaknya curiga karena kita bisik-bisik sambil ngelihatin dia. Kan nggak seru ya kalau dia udah aware gitu, nanti nggak kaget, lagi. Alhasil, kita ganti target jadi Andrew, dan Melvin ralat informasi ke staf Medzs tentang siapa yang ultah (untung stafnya orang Indonesia, jadi bisa diajak kerja sama, hihihi). Tapiii… kita juga tetap pengen bikin Wiwin ge-er, mumpung dia sudah waspada kan, biar sekalian gitu… plus nanti dia kecele karena udah ge-er tapi ternyata bukan dia yang dikerjain, HAHAHA! *muncul tanduk*

Saya sudah komando William, Jovi, Yohanna, Dephola, Cindy, Melvin, Kenny… “Pokoknya kalau staf Medzs datang sambil bawa kue, kita ikutan nyanyi happy birthday keras-keras ya!” :))

Lalu datanglah para staf sambil nyanyi happy birthday… buat Andrew! Wiwin kecele, dan Andrew bengong! HUAHAHAHA! Ya iya, orang dia nggak ultah, kok tiba-tiba didatengin pakai kue plus lilin dan dinyanyiin happy birthday! =)) Mana kita semeja juga ikutan nyanyi heboh banget, parah!!!

Tapi emang Andrew kan orangnya “nrimo” kalau dikerjain, jadi ya dia juga ho’oh-ho’oh aja semua nyalamin sambil bilang happy birthday! Astaga, lucu banget deh pokoknya! Dan cheese cake “ulang tahun” itu pun akhirnya kita makan rame-rame :p

Habis itu ya udah, kita semua pulang deh… tapi sebelum pulang nggak lupa foto-foto dulu dong!

Left to right: Wiwin, Kenny, Melvin, William, Rayner, Dephola, Yohanna, Cindy, Jovi, me, Anton, Andrew, Felix, Audi

Cewek-cewek juga sekali lagi foto bareng Melvin, yang udah ngasih kita bunga, hehehe. Sayang Eliz udah pulang duluan, jadinya tinggal lima deh ceweknya.


Hope that you had a great Valentine’s Day too! Val Day nggak harus romantis-romantisan berdua sama pacar or pasangan, kan? Dinner berlima belas kayak saya terbukti super-duper SERU! And I thank God for my Xplode family! :)

Comments

Popular posts from this blog

Ziklag

Beberapa hari yang lalu, saya lagi baca One Year Bible Plan, waktu roommate saya ingatin untuk bayar uang kost. FYI, we rent a unit of HDB (sebutan untuk rumah susun di Singapore) here, consists of three bedrooms, and one of those rooms has been vacant for a month. We’ve been trying our best in order to find a housemate, but still haven’t found one yet. Nah, berhubung saya dan roommate saya nyewa satu unit, konsekuensinya adalah kalau ada kamar yang kosong, kami yang harus nanggung pembayarannya. Haha, finding a housemate is frustating, and paying for a vacant room is even more! :p But then, we have no choice. Jadi, waktu roommate saya ingatin untuk bayar uang kost (karena memang udah waktunya bayar), I went downstair to withdraw money from ATM (di bawah rumah saya ada mesin ATM, lol!). Waktu habis ngambil uang, saya cek saldo, dan… langsung mengasihani diri sendiri, wkwk. Ironis sekali bagaimana sederet angka yang terpampang di monitor mesin ATM bisa mempengaruhi mood-mu, ya? :p N

Where It All Began

Saya dapat banyak BANGET pertanyaan tentang gimana awal mula saya menulis dan menerbitkan buku. Karena saya nyaris nggak sempat untuk balas semua pertanyaan itu, muncullah ide yang nggak gitu jenius ini dalam benak saya: tulis saja di blog! Sekalian comeback-nya blog saya, yang baru kemarin saya bersihin dari pernak-pernik nggak penting dan saya balikin ke template standar, supaya lebih gampang dibaca ;) So, here we go! Dari kecil, saya suka baca. Setiap kali ultah dan ditanya sama tante dan om saya pengen kado apa, pasti tanpa ragu saya akan menjawab: buku! Segala jenis buku saya telan; mulai dari Doraemon (ada om saya yang rajin banget beliin saya Doraemon, nggak pernah lewat satu nomor pun!), cerita rakyat dari Jawa Timur, Jawa Barat, dan segala daerah di Indonesia, sampai novel Mira W (yang seharusnya belum boleh saya baca sebagai anak SD, tapi saya pinjam dari perpus sekolah, hahaha). Tanpa saya sadari, hobi membaca itu bikin saya jadi pintar menyusun kata-kata di kepala, kar

By the Lakeside

Semua orang bilang, hidup saya baik-baik saja. Mereka nggak tahu bahwa belakangan ini saya merasa sebagian besar hidup saya tersia-sia. Saya nggak depresi, tapi saya rasa saya sedang mengalami apa yang orang sebut sebagai quarter-life crisis, yang didefinisikan oleh Wikipedia sebagai: A period of life usually ranging from the late teens to the early thirties, in which a person begins to feel doubtful about their own lives, brought on by the stress of becoming an adult. Sudah beberapa minggu ini saya merasa saya seorang underachiever, belum meraih apa-apa dalam hidup saya. I know, I know, you're gonna yell jadi-udah-nerbitin-lima-belas-buku-itu-menurut-lo-bukan-pencapaian-? at me, seperti yang dilakukan beberapa teman dekat saya. Frankly speaking, itulah yang saya rasakan. Bukannya nggak bersyukur, tapi mungkin karena sudah cukup sering, melihat buku saya diterbitkan nggak lagi menjadi hal yang istimewa buat saya. Saya merasa itu sesuatu yang biasa-biasa saja. Saya juga m