Skip to main content

Posts

Showing posts from July, 2011

Such an Anointed Song

Heard this song at youth service last Saturday, and I suddenly fell down into tears. Heart of a Servant By: City Harvest Church Standing in awe of Your grace Setting my feet in Your ways Entering into Your presence To behold You face to face God of all heaven and earth Holding me in Your embrace Unfailing love that surrounds me Oh God i stand amazed My Jesus my Lord You're the love of my life Wherever You go wanna be by Your side No longer I, but Christ living in me Serving You for all eternity My eyes set on You In this race that i run No longer my ways let Your will be done Make me a servant my heart's ever true Clinging to the cross i'll follow You I'll follow You Gileeee, asli di dalam hati rasanya meledak gitu. Sering ngaku anak Tuhan, sering bilang mau mengikuti kehendak Tuhan... but I found myself was pretty much following my own desire rather than obeying His commandments. I often chose my own way, than followed His path. Belakangan, setelah dapat kes

Yang Tidak Kusadari

Hari Sabtu lalu, as usual, saya datang di ibadah youth di gereja saya di sini, Gereja Oikos Singapore. Kemarin khotbahnya sangat bagus, tentang hal-hal yang dipakai iblis untuk menjatuhkan anak-anak Tuhan di dunia ini: keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup (1 Yohanes 2 : 16), tapi yang mau saya bahas bukan itu. The thing I want to emphasize on is this: sehabis khotbah, pendetanya pengen doain anak-anak muda yang ada di situ. Karena ibadah youth di sini nggak terlalu banyak orangnya (maksimal 30 orang), kami memang sering didoain one by one gitu. Nah, perlu diinformasikan (huehehe) bahwa saya tumbuh di gereja yang cukup konservatif dan kaku (GKI – Gereja Kristen Indonesia), sementara di Oikos sini mereka cukup karismatik. Di GKI kamu nggak akan menemukan orang yang menyanyi sambil mengangkat tangan, nangis, atau berbahasa roh dalam doa, tapi di Oikos hal-hal tersebut sangat familiar. Hal lain yang asing bagi saya juga adalah altar call dan didoain one by one gitu (apa

To Not be Tempted, and To Not be the Temptation Itself

Udah lama banget pengen posting ini, sejak awal pindah ke Singapore, tapi tertunda terus, hehehe. Anyway, apa saya sudah bilang bahwa di Singapore buanyaaaaak cowok keren? Dalam perjalanan ke kampus aja, saya bisa nemuin lebih dari sepuluh cowok keren, lho! Di bus stop pas nunggu bus, di bus nya sendiri, di jalan, dan tentu saja… di kampus! You started to wonder, “Bentar, ini maksudnya apa sih, mau pamer?”, didn’t you? :p Sama sekali nggak mau pamer kok, tapi mau bagi berkat :) Jujur aja ya, salah satu alasan saya menunda posting ini adalah karena… saya malu. Serius deh. Posting ini seperti membuka salah satu aib saya yang paling saya tutup-tutupi. Tapiii, saya pengen pengalaman saya ini bisa memberkati orang lain, dan melawan rasa malu saya, saya memutuskan untuk menulisnya. Here we go! I love… guys! Errr… what’s wrong with that? I love… good looking guys! Ew… who doesn’t? Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut. (Amsal 14 : 12) Hal-hal yang diangg

Nggak Seiman, So...?

Kemarin cell group saya, ACT, pergi outing alias jalan-jalan ke Makan Sutra, di daerah Esplanade. Oiya, sebelumnya kenalan dulu ya sama anggota ACT, nggak afdol kalau nggak kenalan *bilang aja mau nampang :p* Eng ing eng… perkenalkan: Left to right: Daniel, saya (yang rambutnya lagi nggak banget -_-), Jovi (she’s my roommate), and our leader, Andy. Sebenernya masih ada anggota-anggota lain, which are Epi, Lusi, dan Didi, tapi kemarin yang bisa pergi cuma empat oknum ini, ya sutralah. Anyway, ide untuk posting ini saya ambil dari obrolan kami saat makan kemarin. Pertamanya sih kita ketawa-ketiwi bahas segala macam (trust me, kalau empat orang ini udah ngumpul, bahasannya bisa sangat absurd dan dalam lingkup topik yang tak bisa diperkirakan, so… beware! Hehehe nggak deng, bercanda :p), terus ujung-ujungnya kok obrolan jadi serius. Kami bahas tentang… pernikahan yang nggak seiman. Nah, sebelum saya lanjut lagi, saya mau share satu postingan yang bagus bangettt tentang hal ini, dulu

Toast and Thought

Pendeta saya, Wahyu Pramudya (I usually called him “Pak Wepe”) sedang di Singapore untuk mengikuti sebuah seminar, dan kemarin saya, sama Jeremy (salah satu jemaat GKI Ngagel yang sekarang juga tinggal di Singapore) janjian untuk ketemu sama Pak Wepe di Ya Kun Kaya Toast Raffles City. Wepe menyebut acara ketemuan ini sebagai “mengunjungi dua dombanya yang sedang tersesat di Singapura” :)) Saya, karena ternyata kelar kuliah lebih cepat, sampai di Raffles City duluan. Dan karena perut sudah keroncongan (call this self-defense, but that was dinner time already :p) saya pun pesan duluan sebelum Pak Wepe dan Jeremy datang. These are hot milo and hot kaya toast with butter who borught me back to life, after an exhausting day at campus *lebay* Anyway, nggak lama setelah itu Pak Wepe datang, dan nggak lama setelahnya, Jeremy juga datang. Oya, Jeremy baru lulus S2 dari National University of Singapore, dan sekarang dia kerja di sebuah perusahaan konstruksi asing yang sedang ada proyek

My GOD Provides!

Ini hanya suatu malam biasa di mana saya berniat saat teduh (berdoa dan baca Alkitab) sebelum tidur. But this night, when I was praying, this thought crossed my mind: nanti bayar uang kuliah trimester empat pakai uang dari mana yaaaa? Huehehe. FYI, kampus saya di sini menggunakan sistem trimester alias empat bulanan. Jika semua lancar, S1 saya bisa selesai dalam 4 trimester (16 bulan). Nah, cara pembayaran uang kuliah adalah setiap awal trimester itu. Trimester satu sudah terbayar bulan Juni kemarin, dan puji Tuhan, uang untuk membayar trimester dua dan tiga juga sudah ada. Tapi trimester empat, yang due 27 Juni 2012, dananya sampai sekarang belum ada, bahkan untuk dipikir mau diambil dari mana pun, saya masih have no idea. Yah, saya sih nggak khawatir, karena saya percaya bahwa TUHAN pasti menyediakan. Dia sudah membawa saya sejauh ini, nggak mungkin Dia membiarkan langkah saya terhenti di tengah jalan. Terbukti kok, dari cara-Nya yang sangat ajaib dalam memenuhi segala kebutuhan

Jika Anak Rantau Memasak...

Berhubung banyak yang request contekan resep setelah saya tweet beberapa foto hasil masakan saya selama jadi anak rantau di sini, baiklah… akan saya bagi dengan senang hati :D Here we go! Cap Cay Goreng Bahan: - 1 bh wortel, potong tipis-tipis - 1 bungkul bunga kol, potong seukuran ibu jari, cuci lalu rendam dengan air garam - 100 gr kacang kapri, buang serat bagian pinggirnya, potong serong - 10 bh baso sapi, potong tiap baso menjadi empat bagian - 2 siung bawang putih, kupas lalu memarkan - 1 sdm tepung maizena, larutkan dengan air - 1 bh kaldu blok instan maggie/knorr rasa sapi - Garam dan merica secukupnya - Sedikit minyak goreng untuk menumis - 500 ml air Cara membuat: - Tumis bawang putih hingga harum, lalu masukkan baso - Masukkan air, wortel, bunga kol, kacang kapri, kaldu blok, garam, dan merica. - Setelah sayuran matang dan lunak, masukkan tepung maizena yang telah dilarutkan dengan air - Aduk terus hingga mengental. Angkat dan hidangkan. Sop Sayuran dan Sosis Bahan:

An Old Friend of Mine

Hari Minggu kemarin, saya ketemuan sama sobat saya semasa SMP, Meiducia a.k.a Ducia. (I used to call her “Memed” when we were at junior high, actually :p) Ducia lagi di Singapore sama cowoknya, Ian, karena Ian lagi dapat tawaran kerja di sini. Oya, mereka lulusan Ausie, tapi sekarang udah balik Indo. Lucunya adalah, saya udah lamaaaa banget nggak ketemu or kontakan sama Ducia, tapi pas di Singapore kemarin dia ingat saya dan ngajak ketemuan. Kami pun sepakat untuk ketemuan di Orchard. Waktu menunggu Ducia dan Ian datang, saya rada mikir… nanti mau ngobrol apa ya? Yah, secara udah lama nggak ketemuan kan, dan biasanya orang yang udah lama nggak kontakan suka kagok atau canggung kalau ketemu lagi, dan ujung-ujungnya malah acara “reuni”nya jadi nggak asyik. Tapi kekhawatiran saya nggak terbukti! Pas ketemu, dengan lancarnya saya dan Ducia langsung ngobrol ini-itu, cerita ina-inu, sama sekali nggak ada awkward moment. Senangnya! We had dinner together at Takashimaya’s Food Village. Sa

So... How's Life?

I can say that it’s blessed abundantly! Yah, harus dijelaskan dengan kata apalagi – selain diberkati dengan melimpah – kalau semua yang ada di sini sepertinya sudah dirancang dengan baik oleh tangan Tuhan sendiri? Mulai hal-hal besar, sampai hal-hal kecil, saya menemukan semuanya sudah disiapkan oleh Tuhan :) Seperti yang pernah saya ceritakan di postingan Comfort Zone, ketika saya mau berangkat aja, ada teman yang mau bantu menguruskan tetek-bengek daftar kuliah (free of charge!), lalu mantan dosen saya mau mencarikan subject synopsis (daftar penting mengenai mata kuliah apa saja yang pernah saya ambil semasa D3, supaya saat ambil S1 saya tidak perlu mengulang basic subjects), dan roommate teman baik saya balik ke Indo, hingga saya bisa menggantikan tempatnya. Ketika sampai di sini, saya mendapati tangan Tuhan bekerja dalam banyak hal juga. Contoh pertama: international students di sini, yang tidak menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pertamanya (padahal itu adalah bahasa peng