Skip to main content

Menang Sempurna!

China akhirnya berhasil mempertahankan Sudirman Cup di negeri mereka untuk dua tahun ke depan. Ini adalah Sudirman Cup ketujuh bagi China, tiga yang terakhir (edisi 2005, 2007, dan 2009) diraih secara berturut-turut! Hat-trick, cuy!
Di final yang diselenggarakan di Guangzhou Gymnasium kemarin, China membabat Korea 3-0. Ganda campuran Zheng Bo/Yu Yang, tunggal putra Lin Dan, dan ganda putra Cai Yun/Fu Haifeng, berhasil melaksanakan tugasnya dengan baik. Skuad Korea yang menurunkan Lee Hyo Jung/Lee Yong Dae, Park Sung Hwan, dan Lee Yong Dae/Jung Jae Sung, meski sudah berjuang habis-habisan, tetap dipaksa bertekuk lutut oleh China.
Satu hal yang bikin saya geleng kepala, adalah karena China memenangi Sudirman Cup kali ini dengan skor sempurna! Sejak penyisihan grup, mereka nggak kehilangan satu partai pun! Jepang, Inggris dan Indonesia disikat 5-0, sementara Malaysia dihabisi 3-0 di semifinal. Korea bernasib sama dengan Malaysia. Gila!
Yah, ini jelas membuktikan betapa China masih berada di level yang berbeda dengan negara-negara jago bulutangkis lainnya. Beberapa tahun terakhir, mereka berhasil menyandingkan Thomas-Uber Cup, plus Sudirman Cup di negara mereka. Belum termasuk 3 medali emas di Olimpiade Beijing 2008 lalu, dan sapu bersih gelar All England tahun ini. Saya belum menghitung gelar-gelar yang didapat para pebulutangkis China lewat turnamen-turnamen individual yang mereka ikuti. Pastinya seabreg juga.
Nah, kalau melihat itu, rasanya sedih banget. Kapan ya, Indonesia bisa begitu juga? Walapun kita punya pemain-pemain yang nggak kalah hebat, rasanya masih kalah saing dari China. Kekalahan paling utama adalah dalam hal regenerasi pemain.
Di China, era tunggal putri yang hebat-hebat seperti Xie Xingfang, Lu Lan, dan Zhu Lin belum habis, sudah muncul pelapis-pelapisnya yang nggak kalah hebat: Wang Yihan, Wang Lin, dan Jiang Yanjiao. Sementara Indonesia? Maria Kristin lagi, Maria Kristin lagi. Kita sering punya ketergantungan pada pemain-pemain tertentu, dan ketika pemain itu cedera atau sudah pensiun, baru deh kelimpungan cari penggantinya
Ambil contoh di semifinal melawan Korea kemarin. Maria Kristin cedera saat melawan Wang Yihan di penyisihan grup, tapi dia masih tetap diturunkan melawan Korea, padahal lawannya cuma siapa? Hwang Hye Youn, yang belum pernah terdengar prestasinya. Akibat dipaksakan meski cedera, Maria malah main di bawah form terbaiknya. Banyak unforced error sendiri, dan justru membuat Hye Youn bisa mengalahkannya dalam straight game. Pertanyaan saya: kenapa sih yang diturunkan melawan Hye Youn bukan Firdasari aja? Firda toh dalam kondisi yang prima. Saya yakin deh seyakin-yakinnya, Firda bakal mampu mengatasi Hye Youn *toh Hye Youn pemain yang biasa-biasa saja, dia bisa menang karena Maria, yang dalam kondisi cedera, banyak melakukan kesalahan sendiri*, dan menyumbangkan angka untuk Indonesia. Hasil semifinal mungkin akan berbeda. Siapa tahu Indonesia lah yang lolos ke final, bukannya Korea
Satu lagi. Ketika cedera Markis Kido kambuh, kenapa di penyisihan grup melawan China, Indonesia justru menurunkan pasangan bongkar pasang Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan? Kenapa nggak sekalian aja menurunkan Mohammad Ahsan/Bona Septano? Plis deh, Ahsan/Bona itu runner-up Japan Super Series 2008, which means mereka bukan pasangan sembarangan, dan Indonesia toh nggak wajib menang saat melawan China *karena sudah memastikan tempat di semifinal*, kenapa malah ngotot memasangkan Hendra dengan Ahsan?
Jelas, Indonesia terlalu takut mengambil resiko. Nggak mau gambling dengan menurunkan pemain juniornya. Padahal, kalau yang junior-junior nggak diberi kesempatan, nanti saat seniornya pensiun, juniornya belum punya pengalaman yang cukup untuk terjun ke turnamen internasional. Akibatnya keok lagi, keok lagi
Yah, saya nggak sedang menyalahkan siapapun kok. Ini cuma uneg-uneg aja. Pasti pelatih punya pertimbangan sendiri saat menurunkan pemain tertentu dalam satu turnamen, dan saya menghargai siapapun pemain yang diturunkan itu.
Semoga ke depannya bulutangkis Indonesia bisa lebih baik lagi yaa. Ayoo INDONESIA!

PS: pic taken from here

Comments

dan, keterpurukan *halah, bahasa mana ini* bulutangkis Indonesia diperparah dengan kepergian Hendrawan, pelatih tunggal putra yg memutuskan jadi pelatih di Malaysia... alhasil, ada ancaman tunggal putra kita bakal keteteran lagiii!!!

*eh, misalnya yg ngegantiin kakak iparnya Hendra Setiawan itu Mulyo Handoyo, Taufik Hidayat bakal balik lg ke pelatnas gak ya? hihihi*
Chacha said…
China lagi... China lagi yang menang!
Jd capek liatnya !
Stephanie Zen said…
elena: HAH???? masa??? tau dari mana el? haduh mampus deh, mampuuuus.. udah rexy ngelatih di malaysia, sekarang hendrawan juga mau ke sana? :( :( :( tapi emang di sana tingkat kesejahteraan pelatih pasti lebih tinggi ya, hiks.. oh iya, hendrawan kakak iparnya hendra setiawan ya? dulu kayaknya pernah denger wekekek.. hmm kayaknya taufik gengsi deh balik kucing ke pelatnas lagi, lagian udah ketuaan el :p

chacha: iya nih, mana rekor sempurna pula..
heuuuuh~ lagi2 karna duit...

wohoo, jelas el tau, wong udah ramee banget dibahas dari kmrn! *Ko Wawan jg udh ngasi pernyataan di media cetak, dan mgkn disusul ke konfrensi pers*

iyaa! Ko Wawan emg kakak iparnya Hendra Setiawan!
huhu,indo kalah :'(
Aku stju ama kk!
Haha
Bultang indo kok makin lama makin mundur yah..
Bnyak senior yg ngundurin diri dr platnas,jd kelabakan gni.
Terutama ganda ce...
Huhu
Stephanie Zen said…
michelle: he'eh, indo suka ketergantungan sama pemain2 tertentu sih soalnya.. juniornya kurang pengalaman, pas seniornya pensiun, lewat deeeeh :(

Popular posts from this blog

Ziklag

Beberapa hari yang lalu, saya lagi baca One Year Bible Plan, waktu roommate saya ingatin untuk bayar uang kost. FYI, we rent a unit of HDB (sebutan untuk rumah susun di Singapore) here, consists of three bedrooms, and one of those rooms has been vacant for a month. We’ve been trying our best in order to find a housemate, but still haven’t found one yet. Nah, berhubung saya dan roommate saya nyewa satu unit, konsekuensinya adalah kalau ada kamar yang kosong, kami yang harus nanggung pembayarannya. Haha, finding a housemate is frustating, and paying for a vacant room is even more! :p But then, we have no choice. Jadi, waktu roommate saya ingatin untuk bayar uang kost (karena memang udah waktunya bayar), I went downstair to withdraw money from ATM (di bawah rumah saya ada mesin ATM, lol!). Waktu habis ngambil uang, saya cek saldo, dan… langsung mengasihani diri sendiri, wkwk. Ironis sekali bagaimana sederet angka yang terpampang di monitor mesin ATM bisa mempengaruhi mood-mu, ya? :p N

By the Lakeside

Semua orang bilang, hidup saya baik-baik saja. Mereka nggak tahu bahwa belakangan ini saya merasa sebagian besar hidup saya tersia-sia. Saya nggak depresi, tapi saya rasa saya sedang mengalami apa yang orang sebut sebagai quarter-life crisis, yang didefinisikan oleh Wikipedia sebagai: A period of life usually ranging from the late teens to the early thirties, in which a person begins to feel doubtful about their own lives, brought on by the stress of becoming an adult. Sudah beberapa minggu ini saya merasa saya seorang underachiever, belum meraih apa-apa dalam hidup saya. I know, I know, you're gonna yell jadi-udah-nerbitin-lima-belas-buku-itu-menurut-lo-bukan-pencapaian-? at me, seperti yang dilakukan beberapa teman dekat saya. Frankly speaking, itulah yang saya rasakan. Bukannya nggak bersyukur, tapi mungkin karena sudah cukup sering, melihat buku saya diterbitkan nggak lagi menjadi hal yang istimewa buat saya. Saya merasa itu sesuatu yang biasa-biasa saja. Saya juga m

Where It All Began

Saya dapat banyak BANGET pertanyaan tentang gimana awal mula saya menulis dan menerbitkan buku. Karena saya nyaris nggak sempat untuk balas semua pertanyaan itu, muncullah ide yang nggak gitu jenius ini dalam benak saya: tulis saja di blog! Sekalian comeback-nya blog saya, yang baru kemarin saya bersihin dari pernak-pernik nggak penting dan saya balikin ke template standar, supaya lebih gampang dibaca ;) So, here we go! Dari kecil, saya suka baca. Setiap kali ultah dan ditanya sama tante dan om saya pengen kado apa, pasti tanpa ragu saya akan menjawab: buku! Segala jenis buku saya telan; mulai dari Doraemon (ada om saya yang rajin banget beliin saya Doraemon, nggak pernah lewat satu nomor pun!), cerita rakyat dari Jawa Timur, Jawa Barat, dan segala daerah di Indonesia, sampai novel Mira W (yang seharusnya belum boleh saya baca sebagai anak SD, tapi saya pinjam dari perpus sekolah, hahaha). Tanpa saya sadari, hobi membaca itu bikin saya jadi pintar menyusun kata-kata di kepala, kar