Skip to main content

Pindahan #2: Putus

Nggak, saya nggak putus. Lha mau putus sama siapa?

Okay, selamat datang kembali di blog post series Pindahan! Buat yang belum baca part 1-nya, sila dibaca di sini ya, biar nggak bingung saya ngoceh tentang apa.

Lanjuttt!

Untuk pindahan kali ini, saya memutuskan nggak pakai jasa mover alias tukang jasa pindahan. Kenapa? Karena selain barang saya nggak banyak-banyak amat, pakai mover di sini juga lumayan mahal, bisa $70 - $100. Mending duitnya dipake buat beli baju baru.

Nah, resiko nggak pakai mover adalah, saya harus mau pindahin barang saya sedikit demi sedikit dari rumah lama ke rumah baru. Rutinitas saya tiap pagi selama seminggu belakangan kira-kira begini: tiap pagi ke kantor bawa gembolan dua travel bag atau satu koper --> Dilihatin dan ditanyain sama orang-orang sekantor, "Wah, you're flying back home, ah?" --> I wish --> Kerja membanting tulang demi sepetak kamar sampai kira-kira jam 7 malam --> Gotong-gotong gembolan ke rumah baru.

Asal tahu aja, gotong-gotong gembolannya itu naik bus, bukan taksi atau mobil pribadi. Dan jarak yang harus ditempuh dengan jalan kaki dari bus stop ke kantor atau rumah baru itu lebih jauh daripada jarak antar 2 Indomaret di Indonesia.

Terus, kemarin waktu baru duduk terengah-engah di bus setelah menggotong gembolan, saya menyadari bahwa tali sandal saya... putus. Eaaa. Emang sandal ini sudah lumayan lama sih, 2 tahun lebih, kali. Mama saya aja dulu pas lihat saya masih pakai sandal ini, nanya, "Lho belum putus-putus juga sandalmu itu? Kuat, ya."

Tapi kekuatan sandal itu berakhir kemarin. Pas amat. Hahaha. Anyway, saya nggak sempat motret sandalnya, tapi kira-kira sandalnya kayak gini, dan putusnya juga pas begini, yang sebelah kanan juga. Mbak pemilik sandal, siapapun engkau, I feel you, dan saya pinjam foto sandal Anda sebagai ilustrasi ya.



Oke, balik ke adegan di bus. Saya memandangi sandal saya dengan bingung. Kemudian memandang dua gembolan koper dengan lebih bingung. Ini nanti pas turun bus gimana caranya, ya? Masa iya nggak pake sandal? Mana jalan dari bus stop ke rumah baru itu lumayan...

Dan ketika akhirnya saya sampai di bus stop tujuan, saya pun turun. Pertamanya saya tetap sok pakai sandal, tapi sambil diseret-seret. Cuma, lama-lama nggak tahan juga nyeret-nyeret kaki. Akhirnya saya pasrah dan melepas satu sandal saya. Yang satunya nggak dilepas? Nggak dong... wong yang putus cuma satu, ngapain kaki satunya ikut menderita menapak aspal pula? Nehi.

Untungnya yaaa, di sini aspal itu rata. Nyaris nggak ada benda-benda tajam yang bisa melukai kaki. Palingan berasa kayak lagi massage aja gitu. Walau saya nggak tahu apa yang ada di pikiran orang-orang yang berpapasan dengan saya saat itu. Mungkin saya dikira lagi minggat dari rumah, atau agak setengah dua belas, jadi keluar rumah pakai sandal cuma sebelah. Bodo deh.

Dengan penuh perjuangan, akhirnya saya sampai di rumah baru. Setelah mindah-mindahin barang, saya pamit pulang dengan meminjam sandal calon housemate baru saya. Pas di bus, saya curhat sama salah satu teman saya yang lagi liburan di Bali. And surprisingly...



Intinya.. kadang pindahan itu berat karena kita harus "putus" sama kebiasaan-kebiasaan lama kita (dalam kasus saya: kebiasaan beli KFC di bawah rumah). Kadang pindahan itu berat karena kita harus "putus" ikatan batin sama rumah lama yang dulu kita tinggali. "Putus" kontak sama uncle penjual jus langganan, atau abang-abang minimarket tempat saya biasa beli Pringles.

But, your new journey awaits. Dalam kasus saya, my new pair of sandal awaits ;)


Comments

Popular posts from this blog

Ziklag

Beberapa hari yang lalu, saya lagi baca One Year Bible Plan, waktu roommate saya ingatin untuk bayar uang kost. FYI, we rent a unit of HDB (sebutan untuk rumah susun di Singapore) here, consists of three bedrooms, and one of those rooms has been vacant for a month. We’ve been trying our best in order to find a housemate, but still haven’t found one yet. Nah, berhubung saya dan roommate saya nyewa satu unit, konsekuensinya adalah kalau ada kamar yang kosong, kami yang harus nanggung pembayarannya. Haha, finding a housemate is frustating, and paying for a vacant room is even more! :p But then, we have no choice. Jadi, waktu roommate saya ingatin untuk bayar uang kost (karena memang udah waktunya bayar), I went downstair to withdraw money from ATM (di bawah rumah saya ada mesin ATM, lol!). Waktu habis ngambil uang, saya cek saldo, dan… langsung mengasihani diri sendiri, wkwk. Ironis sekali bagaimana sederet angka yang terpampang di monitor mesin ATM bisa mempengaruhi mood-mu, ya? :p N

Where It All Began

Saya dapat banyak BANGET pertanyaan tentang gimana awal mula saya menulis dan menerbitkan buku. Karena saya nyaris nggak sempat untuk balas semua pertanyaan itu, muncullah ide yang nggak gitu jenius ini dalam benak saya: tulis saja di blog! Sekalian comeback-nya blog saya, yang baru kemarin saya bersihin dari pernak-pernik nggak penting dan saya balikin ke template standar, supaya lebih gampang dibaca ;) So, here we go! Dari kecil, saya suka baca. Setiap kali ultah dan ditanya sama tante dan om saya pengen kado apa, pasti tanpa ragu saya akan menjawab: buku! Segala jenis buku saya telan; mulai dari Doraemon (ada om saya yang rajin banget beliin saya Doraemon, nggak pernah lewat satu nomor pun!), cerita rakyat dari Jawa Timur, Jawa Barat, dan segala daerah di Indonesia, sampai novel Mira W (yang seharusnya belum boleh saya baca sebagai anak SD, tapi saya pinjam dari perpus sekolah, hahaha). Tanpa saya sadari, hobi membaca itu bikin saya jadi pintar menyusun kata-kata di kepala, kar

By the Lakeside

Semua orang bilang, hidup saya baik-baik saja. Mereka nggak tahu bahwa belakangan ini saya merasa sebagian besar hidup saya tersia-sia. Saya nggak depresi, tapi saya rasa saya sedang mengalami apa yang orang sebut sebagai quarter-life crisis, yang didefinisikan oleh Wikipedia sebagai: A period of life usually ranging from the late teens to the early thirties, in which a person begins to feel doubtful about their own lives, brought on by the stress of becoming an adult. Sudah beberapa minggu ini saya merasa saya seorang underachiever, belum meraih apa-apa dalam hidup saya. I know, I know, you're gonna yell jadi-udah-nerbitin-lima-belas-buku-itu-menurut-lo-bukan-pencapaian-? at me, seperti yang dilakukan beberapa teman dekat saya. Frankly speaking, itulah yang saya rasakan. Bukannya nggak bersyukur, tapi mungkin karena sudah cukup sering, melihat buku saya diterbitkan nggak lagi menjadi hal yang istimewa buat saya. Saya merasa itu sesuatu yang biasa-biasa saja. Saya juga m