Tuesday, August 23, 2011

Logika Manusia vs Janji Tuhan (part1)

Pernah nggak sih, kita merencanakan segala sesuatu yang, di mata kita nih, semuanya udah perfect? Secara logika juga nggak ada missed-nya sedikit pun deh! Dan tiba-tiba… JDUERRR… segalanya malah berjalan nggak sesuai rencana? Dan justru malah… berantakan?

Nah, sekarang apa yang mau saya ocehkan di sini? Yup, kecendurangan kita (baca: manusia) untuk merencanakan segala sesuatu hanya berdasarkan logika atau akal sehat kita yang terbatas, dan pada akhirnya malah membuat segala sesuatu kacau balau!


Alkitab mencatat banyak kisah di mana logika manusia “mengalahkan” janji Allah, atau membuatnya lupa akan janji tersebut. Yuk, kita lihat beberapa contohnya:

1. Sara
Karena melihat dirinya mandul, Sara (pada waktu itu namanya Sarai) mengambil hamba perempuannya, Hagar, dan memberikannya pada Abraham (pada waktu itu namanya Abram), suaminya, untuk dijadikan istri.

Berkatalah Sarai kepada Abram: "Engkau tahu, TUHAN tidak memberi aku melahirkan anak. Karena itu baiklah hampiri hambaku itu; mungkin oleh dialah aku dapat memperoleh seorang anak." (Kejadian 16:2)

Secara logika, kayaknya masuk akal banget, kan? Tuhan menjanjikan kepada Abraham keturunan yang banyaknya bak bintang di langit (baca Kejadian 15:5), tapi kok Sara lihat dirinya mandul? Maka… logikanya mulai mengambil alih, dan ia berpikir, “Ooh, mungkin keturunan Abraham bukan dari aku, istrinya… Mungkin keturunannya akan berasal dari perempuan lain. Jadi, daripada suamiku milih perempuan yang nggak jelas asal-usulnya, mending aku aja yang pilihin… nih ada hambaku si Hagar.”

Logika Sara mengalahkan janji Tuhan :(

2. Bangsa Israel
Yuk mari dibaca dulu yang ini… Keluaran 32:1-6 :D

Anak Lembu Emas

32:1 Ketika bangsa itu melihat, bahwa Musa mengundur-undurkan turun dari gunung itu, maka berkumpullah mereka mengerumuni Harun dan berkata kepadanya: "Mari, buatlah untuk kami allah, yang akan berjalan di depan kami sebab Musa ini, orang yang telah memimpin kami keluar dari tanah Mesir -- kami tidak tahu apa yang telah terjadi dengan dia."

32:2 Lalu berkatalah Harun kepada mereka: "Tanggalkanlah anting-anting emas yang ada pada telinga isterimu, anakmu laki-laki dan perempuan, dan bawalah semuanya kepadaku."

32:3 Lalu seluruh bangsa itu menanggalkan anting-anting emas yang ada pada telinga mereka dan membawanya kepada Harun.

32:4 Diterimanyalah itu dari tangan mereka, dibentuknya dengan pahat, dan dibuatnyalah dari padanya anak lembu tuangan. Kemudian berkatalah mereka: "Hai Israel, inilah Allahmu, yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir!"

32:5 Ketika Harun melihat itu, didirikannyalah mezbah di depan anak lembu itu. Berserulah Harun, katanya: "Besok hari raya bagi TUHAN!"

32:6 Dan keesokan harinya pagi-pagi maka mereka mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan, sesudah itu duduklah bangsa itu untuk makan dan minum; kemudian bangunlah mereka dan bersukaria.

Logika bangsa Israel, “Kok Musa nggak turun-turun dari gunung Sinai, ya? Waduh, udah mati kali ya di atas sono? Terus siapa dong yang bakal mimpin kita? Perjalanan masih jauh nih… Kita butuh ‘figur’ pemimpin. Yuk bikin patung aja kalau gitu..”

Logika bangsa Israel membuat mereka lupa sama janji Tuhan :(

Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa kamu keluar dari tanah Mesir, untuk memberikan kepadamu tanah Kanaan, supaya Aku menjadi Allahmu. (Imamat 25:38)

3. Petrus
Ketika Tuhan Yesus mulai mengatakan pada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga, Petrus menegor Dia, “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.” (Matius 16:22)

Apa yang salah? Seorang murid yang mengasihi gurunya pasti nggak akan diam saja mendengar gurunya bilang ia akan dibunuh, kan? Logika Petrus berkata, “Jangan-jangan Guru udah kecapekan ngajar, makanya omongan-Nya mulai melantur. Ah, sebaiknya aku ingatkan Dia!” Tapi, apa kata Yesus?

Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia." (Matius 16:23)

Petrus nggak ingat, bahwa Allah sudah berjanji akan memberikan Juruselamat yang akan menghapus dosa dunia :(

Bukan seorang duta atau utusan, melainkan Ia sendirilah yang menyelamatkan mereka; Dialah yang menebus mereka dalam kasih-Nya dan belas kasihan-Nya. (Yesaya 63:9)

Nah, apakah Alkitab juga mencatat kisah orang-orang yang menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus, alias “mengalahkan” logika mereka dengan janji Allah? For sure! Dan apa itu berarti kita nggak perlu menggunakan logika kita sama sekali? Ya bukan gitu maksudnya… :p

Dua pertanyaan itu bakal saya bahas di postingan berikutnya ya, sekarang mau belajar dulu karena besok dan lusa ada exam, huhuhu… God bless!

2 comments:

Rina Suryakusuma said...

perlu latihan ya steph, untuk menaruh Tuhan di atas logika kita. Karena kadang, pikiran kita sebagai manusia yang serba khawatir pasti main. Tapi kalau kita doa, minta olehNya, pasti Dia juga akan bimbing kita untuk : percaya aja :)
love this posting. Bukan hanya posting, tapi dalam :)) heheee keep posting yang seperti ini, disamping story of daily life ya steph

Stephanie Zen said...

bener, Ci, semuanya butuh latihan, tapi memang iman itu pembelajaran seumur hidup ya :)

hehehe beres, Ci, pasti akan terus posting. di sini malah jadi produktif hehe