Saturday, January 31, 2015

Moving Out

Halo!

Terima kasih sudah mampir ke blog ini.

It's been a wonderful journey, tapi mulai sekarang, saya bakal ngeblog di sini. Mampir, ya!


xoxo,
Stephanie Zen

Thursday, November 27, 2014

DISEWAKAN: Apartemen di Surabaya Timur (dekat MERR)

Sukolilo Dian Regency (Surabaya Timur - Outer Ring Road)

* 2 kamar tidur + 1 kamar mandi, fully furnished (termasuk AC + Elektronik)
* Lokasi strategis: dekat UNAIR, ITS, Widya Mandala, Universitas Hang Tuah, ITATS
* Akses langsung ke MERR, Galaxy Mall, Pakuwon City

* Fasilitas: Gym dan swimming pool 

Rp 3.000.000 / bulan 

Ada SPECIAL PRICE jika kontrak per tahun :)

Hubungi: Bpk. Brando  - 0821 3997 0078












Berminat? Ingin lihat langsung lokasinya?  
Hubungi: Bpk. Brando  - 0821 3997 0078

Monday, October 27, 2014

By the Lakeside

Semua orang bilang, hidup saya baik-baik saja.

Mereka nggak tahu bahwa belakangan ini saya merasa sebagian besar hidup saya tersia-sia. Saya nggak depresi, tapi saya rasa saya sedang mengalami apa yang orang sebut sebagai quarter-life crisis, yang didefinisikan oleh Wikipedia sebagai:

A period of life usually ranging from the late teens to the early thirties, in which a person begins to feel doubtful about their own lives, brought on by the stress of becoming an adult.

Sudah beberapa minggu ini saya merasa saya seorang underachiever, belum meraih apa-apa dalam hidup saya. I know, I know, you're gonna yell jadi-udah-nerbitin-lima-belas-buku-itu-menurut-lo-bukan-pencapaian-? at me, seperti yang dilakukan beberapa teman dekat saya. Frankly speaking, itulah yang saya rasakan. Bukannya nggak bersyukur, tapi mungkin karena sudah cukup sering, melihat buku saya diterbitkan nggak lagi menjadi hal yang istimewa buat saya. Saya merasa itu sesuatu yang biasa-biasa saja.

Saya juga melihat beberapa teman saya, yang usianya notabene lebih muda dari saya, membuat pencapaian-pencapaian besar. Ikut pertukaran pelajar ke negara lain, jadi pemimpin organisasi, memulai perusahaannya sendiri, and here I am... with the emptiness inside of me.

Saya mulai berpikir, mungkin ini karena hidup saya monoton. Predictable. Basi. Nggak ada yang seru. Nggak ada yang saya kejar. So, I started to beg God, "Come on, Tuhan, masa hidup saya begini-begini doang? Umur dua-enam masih gini-gini aja? Please give me a new adventure!"

Kemarin, seperti biasa, saya ikut doa pagi di gereja. Dan, seperti biasa, saya datang dengan agak malas karena saya kerja dari Senin-Sabtu, yang bikin saya sebenarnya pengen bangun siang di hari Minggu. But I forced myself to come.



Saat saya doa, tiba-tiba saya dikasih lihat pemandangan danau yang tenang di pagi hari, dengan latar belakang pepohonan dan dataran yang hijau. I totally had no idea what lake is that and why did God show me that, tapi nggak lama kemudian ia mengingatkan saya pada kisah di Yohanes 21 ini:

21:1 Afterward Jesus appeared again to his disciples, by the Sea of Galilee. It happened this way:  
21:2 Simon Peter, Thomas (also known as Didymus ), Nathanael from Cana in Galilee, the sons of Zebedee, and two other disciples were together. 
21: 3“I’m going out to fish,” Simon Peter told them, and they said, “We’ll go with you.” So they went out and got into the boat, but that night they caught nothing. 

I caught nothing. All of these things-that-people-see-as-achievements, it's nothing. The whole night, the whole 26 years of my life I tried to fish, but I caught nothing.

21:4 Early in the morning, Jesus stood on the shore, but the disciples did not realize that it was Jesus. 
21:5 He called out to them, “Friends, haven’t you any fish?” “No,” they answered.
21:6 He said, “Throw your net on the right side of the boat and you will find some.” When they did, they were unable to haul the net in because of the large number of fish.
21:7 Then the disciple whom Jesus loved said to Peter, “It is the Lord!”

Saya tahu, Petrus sudah jadi nelayan seumur hidupnya. Saya yakin, sebagai orang yang sudah jadi nelayan seumur hidupnya dan pergi mancing semalaman, pastilah sudah mencoba menebarkan jalanya bukan hanya di sebelah kanan perahu, tapi juga di kiri, depan, belakang, di segala sudut perahu. But he caught nothing. 

Sampai pagi tiba, dan seorang asing yang berdiri di tepi danau menyuruhnya menebarkan jala di sebelah kanan perahu. Kalau saya jadi Petrus, sudah empet semalaman nggak dapat ikan dan punya kepercayaan diri bahwa saya pasti lebih berpengalaman dibanding siapapun orang asing di tepi danau yang menyuruh-nyuruh saya itu, saya pasti nggak akan nurut. 

But Peter did. Nggak jelas apa karena dia sudah saking sebodo amatnya, sudah kehilangan harapan atau apa, but he threw his net on the right side of the boat anyway. Dan lihatlah apa yang terjadi.

In that very moment, John said, "It is the Lord!"

Itu Tuhan.

Your quarter-life, teenage-life, mid-life, love-life, family-life, working-life crisis where you caught nothing, where you've been trying to throw your net on whichever-side to catch something, but you found that your net has always been empty... 

You do not realize that it was Jesus that you're missing out. You don't need a new adventure. You don't need a new girlfriend or boyfriend. You don't need the new job, handbags, car, anything to fill the hole.

It can only be filled when you realize, "It is the Lord".

Look at me, I have published so many books, I have the best job-colleague-boss-friends-family in the whole world, I have every single thing that I need and I thought that my life was complete, but I was wrong. 

Because life without God, no matter how seemingly valuable... leads to emptiness. 

Dan yang bikin saya makin nangis bombay adalah apa yang tertulis berikutnya dalam Yohanes 21 itu. 

21:7 As soon as Simon Peter heard him say, “It is the Lord,” he wrapped his outer garment around him (for he had taken it off) and jumped into the water.  
21:8 The other disciples followed in the boat, towing the net full of fish, for they were not far from shore, about a hundred yards.

  
21:9 When they landed, they saw a fire of burning coals there with fish on it, and some bread. 
21:10 Jesus said to them, “Bring some of the fish you have just caught.” 
21:11 So Simon Peter climbed back into the boat and dragged the net ashore. It was full of large fish, 153, but even with so many the net was not torn. 
21:12 Jesus said to them, “Come and have breakfast.”

Nggak terhitung berapa kali, saat saya Saat Teduh di pagi hari, saya nggak mendapatkan apapun kecuali ngantuk. Saya bosan dengan yang begitu-begitu saja, dan saat itu saya tahu, itu karena saya datang dengan hati yang biasa-biasa saja. Saya nggak mengharapkan apa-apa. Saya nggak mengharapkan berjumpa dengan Dia. I stayed on my boat, far away from shore. I, unlike Peter, did not jump into the water to see the Lord.

But still, He waited for me by the lakeside, prepared the burning coal, with fish and bread, and said, "Come and have breakfast."

"Come and have breakfast with Me. Tell me what's going on in your life. I would like to hear everything."

He's there. He's always been there, waiting for me. And yesterday morning, after such a looong time that feels like forever... I finally jumped into the water, to find Him by the lakeside, and we had breakfast together. I spent the whole morning with Him, talked to Him.

And I found my heart overflows with joy. There's no room for emptiness or feeling like an underachiever anymore. I've found the missing piece. 

It is the Lord.


PS: What amazed me even more, adalah setelah doa pagi itu saya membuka chat dari Mama yang sedang di Israel, dan Beliau bilang, "Hai sudah gereja? Mama lagi di tepi Danau Galilea."

God really knows how to speak right to your heart, yes? ;)

Saturday, October 25, 2014

Where It All Began

Saya dapat banyak BANGET pertanyaan tentang gimana awal mula saya menulis dan menerbitkan buku. Karena saya nyaris nggak sempat untuk balas semua pertanyaan itu, muncullah ide yang nggak gitu jenius ini dalam benak saya: tulis saja di blog! Sekalian comeback-nya blog saya, yang baru kemarin saya bersihin dari pernak-pernik nggak penting dan saya balikin ke template standar, supaya lebih gampang dibaca ;)

So, here we go!

Dari kecil, saya suka baca. Setiap kali ultah dan ditanya sama tante dan om saya pengen kado apa, pasti tanpa ragu saya akan menjawab: buku! Segala jenis buku saya telan; mulai dari Doraemon (ada om saya yang rajin banget beliin saya Doraemon, nggak pernah lewat satu nomor pun!), cerita rakyat dari Jawa Timur, Jawa Barat, dan segala daerah di Indonesia, sampai novel Mira W (yang seharusnya belum boleh saya baca sebagai anak SD, tapi saya pinjam dari perpus sekolah, hahaha). Tanpa saya sadari, hobi membaca itu bikin saya jadi pintar menyusun kata-kata di kepala, karena saya jadi tahu bagaimana susunan kalimat yang enak dibaca, penggunaan tanda baca yang benar, sampai pemilihan kata yang tepat.

To be a good writer, you must first be a good reader!

Selain banyak baca, percaya nggak percaya, saya belajar menulis dari... menulis diary! Dari kelas 4 SD, saya sudah belajar nulis buku harian. Saya ingat banget, buku harian saya yang pertama itu warna kuning, sampulnya gambar Sailor Venus, bwahaha! Masih ada tuh buku hariannya di rumah saya di Surabaya, tersimpan aman bersama buku-buku harian yang lain. Dari nulis buku harian ini, saya belajar menuangkan apa yang saya alami hari itu, apa yang mata saya lihat, dan apa yang ada di kepala saya, ke atas kertas. Selangkah lebih maju setelah sebelumnya susunan-susunan kalimat itu hanya ada di kepala.

Nggak, diary saya nggak sekece ini. Ini image cantik dari Pinterest :)

Lalu, datanglah suatu hari di kelas 5 SD, di mana saya mau... ngirim surat cinta ke gebetan saya! Hahaha, serius, ini pertama kalinya saya mengakui hal ini kepada khalayak ramai! Dan, sebagai tukang bikin rencana yang ciamik, saya pun menyiapkan mesin tik, supaya saya nggak perlu nulis pakai tulisan tangan dan gebetan saya nggak tahu surat itu dari saya. Kalau gitu, apa gunanya nulis surat cinta, ya? Oh well, kayak gitu deh pokoknya. Namun, di tengah jalan, nyali saya ciut. Padahal, saya sudah siap dengan mesin tik, dan mau diapakan segebok kertas HVS yang saya beli dari tempat fotokopi di sekolah?

Nggak tahu dari mana, muncullah ide ini di kepala saya: bikin cerpen. Mungkin desakan kalbu yang sudah lama terpendam, kali ya? Jadilah saya menulis cerpen... yang bertema horor! Hahaha! Melibatkan Hotel Niagara, kemenyan, wangi bunga melati, dan entah apa lagi. Saya nggak ingat apa judul cerpen itu, tapi rasanya saya juga nggak mengirim cerpen itu ke manapun. It's just another milestone in my writing career :)

Kelas 1 SMA, untuk pertama kalinya saya baca novel TeenLit, dan guess what novel apa itu? Yoi bro, Dealova! *hail, Dyan Nuranindya!* Novel paling hits sejagad yang dibawa teman saya ke sekolah dan dibaca di tengah-tengah jam pelajaran! Saya pinjam, baca, dan... jatuh cinta. I told myself, this is the kind of story I have been wanting to write! Tapi, waktu itu saya masih nggak ngerti gimana caranya menerbitkan novel. Clueless.

Pucuk dicinta, ulam tiba. Diadakanlah Sayembara Lomba TeenLit Writer 2005, yang saya ikuti dengan membabi-buta! Bayangin aja, dalam tiga bulan saya bisa menyelesaikan dua naskah dengan komputer saya yang waktu itu masih Windows 1995, bentuknya kubus, dan naujubile lamanya loading kalau habis dinyalain! Saya kirim dua naskah itu ke panitia lomba, dan... nggak menang! Hahaha. Yaeyala.

Kira-kira kayak gini deh komputer yang saya pakai nulis dulu *sob*

Tapi setelah itu, saya nggak menyerah. Kenapa? Karena gara-gara lomba itu, saya jadi tahu gimana caranya ngirim naskah ke penerbit, syarat-syarat teknis yang kedengarannya sepele tapi bisa sangat menentukan apakah redaksi fiksinya bakal ilfil sama naskah kamu atau nggak (panjang naskah, font size, spacing, dll), dan seterusnya.

Bersama komputer kubus saya, saya berjuang menulis lima naskah lagi dalam kurun waktu setahun (mak, produktif amat gue waktu itu, yak? Kombinasi dari keteguhan hati dan belum adanya smartphone serta social media!), dan semuanya... DITOLAK! Hahaha. Tapi memang beberapa tahun kemudian saat saya baca ulang lagi naskah-naskah itu, saya ngebatin, "Pantesan ditolak...". LOL.

Setelah perjalanan panjang, lima kali ditolak (untung nggak pakai di-PHP dulu), akhirnya naskah ke-enam yang saya kirim diterima. Judul aslinya 2nd, tapi akhirnya diterbitkan dengan judul Anak Band. Wuah, itu bangganya nggak ketulungan. Saya pajang covernya di tiga profil Friendster saya (helooo, itu tahun 2006, semua orang masih main Friendster!), dan saya nulis ucapan terima kasih sepanjang 3 halaman, yang membuat editor saya geleng-geleng kepala, haha!

Setelah menerbitkan novel pertama dan mengecap nikmatnya popularitas penulis pemula, saya dihadapkan pada kenyataan pahit bahwa menerbitkan novel kedua itu lebih susah dari novel pertama! Karena, meski mungkin baru sedikit, kamu sudah mulai punya pembaca. Kamu sudah mulai punya orang-orang yang menaruh harapan pada karyamu. Editormu sudah mulai menuntutmu untuk menghasilkan tulisan yang lebih baik dan nggak membolehkanmu menulis ucapan terima kasih sepanjang tiga halaman lagi. Saya berjuang, guys. Serius. Butuh lima naskah lagi yang ditolak setelah Anak Band, sampai akhirnya naskah berikutnya disetujui. Kalian tahu buku apa ini. It's Dylan, I Love You! :)

Sudah cetak ulang ganti cover, yay!

Sudah menerbitkan dua buku, dan mengalami penolakan pada belasan naskah di antaranya, membuat saya mulai menemukan gaya menulis saya. Saya tahu apa yang saya suka, saya tahu apa yang akan disukai pembaca saya. Dan lebih dari semua itu, saya akhirnya tahu bahwa menulis bukan hanya hobi saya, tapi juga passion saya. Saya menikmati kata-kata yang hadir di atas kertas dari imajinasi saya, gemetar setiap pertama kali menyentuh contoh cetak buku saya, masih merasakan that-butterfly-effect in my tummy setiap kali ada yang bilang mereka menyukai karya saya... ah, I'm really grateful for that.

Pasca Dylan, I Love You!, puji Tuhan saya nggak pernah lagi ditolak atapun menyatakan cinta. Semua naskah saya melaju dengan mulus, dan tidak lagi dihasilkan melalui komputer kubus. Saya berhutang pada banyak orang untuk semua yang sudah saya raih sekarang, dan terutama, saya berhutang pada kalian, pembaca. Terima kasih ya, untuk semuanya.

Untuk kalian yang ingin jadi penulis, saran saya: banyak baca, banyak nulis, baca lagi, nulis lagi, jauhkan smartphonesmu, log out dari semua social mediamu, baca lagi, nulis lagi, nonton film yang bagus, baca lagi, nulis lagi. Don't give up.

Naskah yang ditolak hanya naskah yang tertunda untuk diterbitkan. Kalian tahu apa salah satu naskah saya yang dikembalikan saat Lomba TeenLit Writer 2005? Thalita. Yep, Thalita yang bertahun-tahun setelah saya tulis untuk pertama kalinya, saya revisi habis-habisan, saya kirim lagi ke penerbit, dan diterbitkan. Memang, setiap naskah punya jalannya sendiri.

Oh, kalau mau tahu cara lengkap dan ke mana harus mengirim naskah, bisa klik di sini atau di sini ya. All the best!

Salam sayang,
Stephanie Zen

Friday, June 27, 2014

Pindahan #2: Putus

Nggak, saya nggak putus. Lha mau putus sama siapa?

Okay, selamat datang kembali di blog post series Pindahan! Buat yang belum baca part 1-nya, sila dibaca di sini ya, biar nggak bingung saya ngoceh tentang apa.

Lanjuttt!

Untuk pindahan kali ini, saya memutuskan nggak pakai jasa mover alias tukang jasa pindahan. Kenapa? Karena selain barang saya nggak banyak-banyak amat, pakai mover di sini juga lumayan mahal, bisa $70 - $100. Mending duitnya dipake buat beli baju baru.

Nah, resiko nggak pakai mover adalah, saya harus mau pindahin barang saya sedikit demi sedikit dari rumah lama ke rumah baru. Rutinitas saya tiap pagi selama seminggu belakangan kira-kira begini: tiap pagi ke kantor bawa gembolan dua travel bag atau satu koper --> Dilihatin dan ditanyain sama orang-orang sekantor, "Wah, you're flying back home, ah?" --> I wish --> Kerja membanting tulang demi sepetak kamar sampai kira-kira jam 7 malam --> Gotong-gotong gembolan ke rumah baru.

Asal tahu aja, gotong-gotong gembolannya itu naik bus, bukan taksi atau mobil pribadi. Dan jarak yang harus ditempuh dengan jalan kaki dari bus stop ke kantor atau rumah baru itu lebih jauh daripada jarak antar 2 Indomaret di Indonesia.

Terus, kemarin waktu baru duduk terengah-engah di bus setelah menggotong gembolan, saya menyadari bahwa tali sandal saya... putus. Eaaa. Emang sandal ini sudah lumayan lama sih, 2 tahun lebih, kali. Mama saya aja dulu pas lihat saya masih pakai sandal ini, nanya, "Lho belum putus-putus juga sandalmu itu? Kuat, ya."

Tapi kekuatan sandal itu berakhir kemarin. Pas amat. Hahaha. Anyway, saya nggak sempat motret sandalnya, tapi kira-kira sandalnya kayak gini, dan putusnya juga pas begini, yang sebelah kanan juga. Mbak pemilik sandal, siapapun engkau, I feel you, dan saya pinjam foto sandal Anda sebagai ilustrasi ya.



Oke, balik ke adegan di bus. Saya memandangi sandal saya dengan bingung. Kemudian memandang dua gembolan koper dengan lebih bingung. Ini nanti pas turun bus gimana caranya, ya? Masa iya nggak pake sandal? Mana jalan dari bus stop ke rumah baru itu lumayan...

Dan ketika akhirnya saya sampai di bus stop tujuan, saya pun turun. Pertamanya saya tetap sok pakai sandal, tapi sambil diseret-seret. Cuma, lama-lama nggak tahan juga nyeret-nyeret kaki. Akhirnya saya pasrah dan melepas satu sandal saya. Yang satunya nggak dilepas? Nggak dong... wong yang putus cuma satu, ngapain kaki satunya ikut menderita menapak aspal pula? Nehi.

Untungnya yaaa, di sini aspal itu rata. Nyaris nggak ada benda-benda tajam yang bisa melukai kaki. Palingan berasa kayak lagi massage aja gitu. Walau saya nggak tahu apa yang ada di pikiran orang-orang yang berpapasan dengan saya saat itu. Mungkin saya dikira lagi minggat dari rumah, atau agak setengah dua belas, jadi keluar rumah pakai sandal cuma sebelah. Bodo deh.

Dengan penuh perjuangan, akhirnya saya sampai di rumah baru. Setelah mindah-mindahin barang, saya pamit pulang dengan meminjam sandal calon housemate baru saya. Pas di bus, saya curhat sama salah satu teman saya yang lagi liburan di Bali. And surprisingly...



Intinya.. kadang pindahan itu berat karena kita harus "putus" sama kebiasaan-kebiasaan lama kita (dalam kasus saya: kebiasaan beli KFC di bawah rumah). Kadang pindahan itu berat karena kita harus "putus" ikatan batin sama rumah lama yang dulu kita tinggali. "Putus" kontak sama uncle penjual jus langganan, atau abang-abang minimarket tempat saya biasa beli Pringles.

But, your new journey awaits. Dalam kasus saya, my new pair of sandal awaits ;)


Pindahan #1: Packing

Hola!

Saya akhirnya memutuskan untuk menulis blog post series tentang pindahan ini, karena setelah dipikir-pikir kok banyak banget inspirasi yang saya dapat selama siap-siap mau pindah, proses pindahannya, dan, sepertinya, setelah saya pindah nanti.

Jadi gini, sejak pindah ke Singapore, saya tinggal di satu unit HDB alias rumah susun. Cuma kayaknya rumah saya ini lebih pantas disebut shop house atau ruko, soalnya cuma dua lantai dan lantai bawah disewa oleh KFC (makanya nggak kurus-kurus).

10 Juni 2014 kemarin genap 3 tahun saya pindah ke Singapore, yang berarti sejak saya tinggal di rumah ini. Dan setelah 3 tahun, saya dan roommate saya, Jovi, memutuskan untuk pindah. Selain karena kontrak rumah sudah habis, juga karena 1 housemate kami mau back for good dan 2 lainnya bakal pindah ke rumah cicinya. Bakal berat bagi kami untuk melanjutkan kontrak rumah, karena kami mengontrak 1 unit, yang berarti kalau ada kamar kosong ya kudu kami yang nanggung. Nggak kuat, bok. Kapan nabung buat meritnya? So to cut the story short, kami memutuskan untuk nggak memperpanjang kontrak rumah.

Dan setelah didoakan, dipikirkan, ditimbang-timbang, akhirnya saya menyewa kamar di rumah salah satu teman saya. Lalu, dimulailah proses paling rebek dalam pindahan: packing!


Tapi ternyata Saudara/i, packing itu nggak semudah kelihatannya. Cuma travelling atau liburan aja saya udah paling malas packing, apalagi ini... pindahan, bow! Harus menyortir dan mengemas barang-barang selama 3 tahun "membangun sarang" di rumah ini. Naujubile deh. Tapi ya mau nggak mau kudu dimulai. Those stuff aren't gonna pack themselves, Stephanie.

Jadi, prosedur packing ini diawali dengan hal yang sangat berat untuk dilakukan, menyortir dan membuang barang-barang yang nggak perlu.

Saya bukan orang yang suka nyimpenin barang, tapi ngebuangin juga nggak tega. Makanya, waktu melihat tumpukan baju yang dipakai-segan-dibuang-enggan, handouts zaman kuliah yang penuh catatan plus coretan bolpen Muji warna-warni ala rainbow cake, sepatu-sepatu yang dulu dibeli cuma karena lucu-aja-gitu, juga koleksi lotion The Body Shop segala varian yang sudah tiga tahun dipajang-doang-dipake-kagak, saya nyesek juga. Tapi, demi kemaslahatan umat manusia, saya tutup mata dan membuang semua benda yang saya tahu nggak saya sentuh dalam tiga bulan belakangan.

Nah, setelah menyortir dan membuang barang-barang itu, barulah saya nyadar... pindahan, apalagi dari tempat yang sudah lama ditinggali, itu nggak enak. Tapi bagusnya, kita jadi tahu bahwa ternyata ada banyak barang nggak penting yang selama ini disimpan dan bisa dibuang.

Sama kayak hati yang pindah dari tempat yang sudah lama kamu tinggali atau singgahi. Nggak enak. Tapi kamu jadi tahu bahwa ternyata ada banyak kenangan nggak penting yang selama ini disimpan dan harusnya bisa dibuang.

Kemarin sih, setelah buangin barang-barang itu, saya berasa lega. Nggak tahu sih kalau situ, gimana perasaannya habis buangin kenangan-kenangan nggak penting? Lega? :p

Okelah, masih banyak cerita lain dari series Pindahan ini, nanti bakal saya post satu-persatu. Postingan yang ini bakal saya tutup dengan satu pesan:


Yang mau packing, sortir, buang-buangin yang nggak penting, buruan gih. Daripada besok berubah pikiran lagi, lho. Hehehe.

Tuesday, April 15, 2014

The Book

Okay, quick question! Berapa banyak dari kita yang suka seenak udelnya memakai ayat Alkitab dan mencocok-cocokkannya dengan situasi kita?
Contoh: lagi naksir cowok atau cewek, dan mendadak ayat favoritnya Mazmur 37:4 alias “Dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu.”
*yakale*
Hati-hati, Tuhan bisa jadi akan menegur kita seperti Ia menegur Iblis yang berusaha mencobai-Nya dalam Matius 4:7!
Jesus answered him, “It is also written: ‘Do not put the Lord your God to the test.’ ”

Kalau di gue ya, ini ibaratnya ada orang ngutip buku gue seenaknya buat adu argumen sama gue. Udah gitu, ngutipnya salah, pula! Tengsin berat lah lo! Hehehe.
Anyway, perlu diingat bahwa Alkitab itu…
Memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. (2 Timotius 3:16)


Mengajar. Membuat kita yang awalnya tidak tahu, menjadi tahu. Dari apa yang tadinya kita lakukan salah, sekarang jadi bisa kita lakukan dengan benar.
They say, the Bible is the Basic Instructions Before Leaving the Earth.
Untuk tahu cara pakai suatu barang (misal: Microwave), kita tahus baca dulu manual book-nya. Nah, Bible is our life’s manual book! You gotta read it to find out how to live your life according to your purpose!
Well, you can live without Christ, can’t you? Yes, but you won’t be alive.
Menyatakan kesalahan. Jangan pernah pakai Alkitab hanya untuk mendukung argumen kita. Nope. Alkitab tidak diberikan oleh Tuhan untuk membenarkanmu, tapi untuk menyatakan kesalahanmu. To bring out what was in the darkness, into the light.
Memperbaiki kelakuan. Kita sering lihat orangtua yang bolak-balik berteriak “Jangan!” pada anaknya yang masih kecil. “Jangan buka pintunya!”, “Jangan loncat-loncat di kursi!”, dan sejuta “jangan” lainnya. Apa gunanya dilarang atau dibilang salah dalam melakukan sesuatu, if we are not being told how to do it the right way?
Alkitab bukan hanya menyatakan kesalahan kita, lalu membiarkan kita clueless, mikir iya-ya-gue-salah, tanpa ditunjukkan bagaimana cara memperbaikinya. Alkita juga menunjukkan padamu bagaimana cara memperbaiki kelakuanmu. See this part:
Do not conform to the pattern of this world, but be transformed by the renewing of your mind. (Romans 12:2 NIV)

Bagian biru dalam ayat ini adalah bagian “menyatakan kesalahan”, sementara bagian ungu adalah bagian yang “memperbaiki kelakuan” kita.
Mendidik orang dalam kebenaran. Mendidik nggak selamanya benar. Ada juga cara mendidik yang seolah-olah benar, tapi sebenarnya salah: mendidik dalam kenyamanan. Dude, great things never came from comfort zones.
Dalam bahasa Indonesia, kata “didikan” itu berkonotasi kurang enak. Kesannya “keras”, kayak bakal dipukul pakai penggaris aja setiap kali berbuat salah. But, no. Alkitab nggak menghukum kita dengan mendidik kita. Justru didikan Tuhan melalui Alkitab itu yang membuat kita bertumbuh. Alkitab nggak mendidik kita dengan mengatakan hal-hal yang manis, tapi ia mendidik kita dalam kebenaran. It might be painful at the beginning, but it will be worth it in the end.
Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan. (Amsal 1:7)

So guys, instead of asking, “What can I find?” everytime you open your Bible, try to ask, “God, what you want me to learn?”. Didn’t God say:
“Call to me and I will answer you and tell you great and unsearchable things you do not know.”


God bless!

Sunday, August 11, 2013

Mean What You Pray

Oke, first of all, I wanna introduce you to the community which I am in charged of at my church here: Christ Impacting Agency (CIA), a youth ministry of Gereja Oikos Place of Faith Singapore!



We’ve just started this ministry last March, with only a few people, consists of Indonesian students in Singapore whom between 12-22 years old. 

Pada awalnya saya lempeng aja memulai dengan jumlah yang kecil (sekitar belasan). Toh di Singapore ini tempat orang datang dan pergi. Turnover rate-nya tinggi sekali, apalagi kalau pelajar, mereka mungkin stay di sini cuma untuk jangka waktu setahun atau dua tahun, setelah itu back for good ke Indonesia atau melanjutkan ke negara lain. Alasan lain adalah Tuhan Yesus toh juga memulai cuma dengan 12 murid, tapi dengan 12 orang itu Dia sanggup mengguncang dunia, jadi yaaah saya percaya CIA yang cuma belasan juga bisa Dia pakai untuk mengguncang Singapore *azeeek!*

Cuma, beberapa minggu terakhir ini entah kenapa saya kok mulai lemah-letih-lesu melihat jumlah yang segitu-segitu aja. Meski nggak putus harapan, cuma secara manusia kok rasanya pengen gitu melihat progres dalam hal kuantitas juga. So, I started to pray to God to send some more people to this community.

Few weeks passed by. We had a wonderful youth camp two weeks ago, but still the participants’ numbers far below my expectations. Di sisi yang lain, saya mulai lupa sama apa yang saya doakan berminggu-minggu lalu. Pikir saya, ya udahlah, jumlah segini juga nggak apa-apa, yang penting mereka bertumbuh.

Tapi Sabtu lalu, saat youth service akan dimulai, saya dibuat melongo. Mendadak ada yang datang bawa sepupunya yang baru pindah sekolah di sini. Lalu ada lagi yang datang bawa sepupunya, dan sepupunya bawa temannya yang juga bawa adiknya, and so on and on and on… sampai jumlah yang datang mencapai dua puluh tiga orang! Padahal, hari itu ada sekitar sembilan anggota tetap yang nggak bisa hadir! So in total, kami hampir melipat-tigakan jumlah kami biasanya!

That ah-so-mazing day!

Sampai pulang ke rumah malam itu, saya masih amazed. Tercengang. Terpesona. Nggak percaya. 

Tapi malam itu, saya diingatkan Tuhan. Why should I be surprised? I should’ve been ready. He’s the God who said, “ask, and you shall receive”, isn’t He? Lucu, kadang manusia lebih syok saat tahu doanya dikabulkan :p

So, from now on, I always remind myself, “Mean what you pray. Be ready for every wish granted, because with it, comes new responsibilities.”

But God knows, I’m thankful for this :)

Wednesday, July 31, 2013

Prologue and Epilogue

Hari ini dapat official news bahwa salah satu tempat menulis favorit saya, Epilogue (kafe yang berada di dalam toko buku Prologue di ION Orchard), bakal tutup per 25 Agustus nanti.


Sebenarnya bukan berita baru sih, karena saya sudah dapat gosipnya sejak sekitar tiga minggu lalu, cuma waktu itu masih belum fix aja gitu. But now, it’s official. :(

Oke, mungkin cerita dari awal kali ya… saya pertama kali tahu Epilogue – sebelumnya sudah pernah ke Prologue, tapi nggak pernah tahu bahwa di dalamnya ada kafe sekece Epilogue – dari teman saya, Vincent. We were with our friends at Orchard during one Sunday afternoon, looking for a cozy place to sit and have a chit-chat, but too bad almost all cafes were full house. Terus Vincent bilang dia tahu ada satu kafe di dalam toko buku Prologue, yang nggak banyak orang tahu, dan karena itu seringkali sepi. 

So, we went there. 

Pertama kali masuk Epilogue, saya terkesima. Wangi kopi dari mesin espresso, denting cangkir, sendok, dan piring, juga suasana teduh dan nyaman toko buku, membaur menjadi satu. This place is heaven on earth! Selain itu, Epilogue juga memiliki deretan meja di sisi jendela, yang kalau kamu berhasil mendapat tempat di sana, kamu akan bisa menikmati view Orchard Road yang tak pernah sepi di bawah sana. Belum cukup semua itu, jendela mereka yang terbentang dari langit-langit sampai ke lantai juga memberikan natural lighting sempurna untuk foto-foto narsis maupun bikin foto foodporn untuk di-upload ke Instagram.


The first time we met :D



How about the food and the drinks? Well, their iced cappuccino is the best in town! I don’t know how they made it, but the taste has always been perfect for my tongue. And their beef lasagna is just… heavenly. And their soda pop mojito. And iced caffe latte. And chocolate lava cake. Ah, semuanya enak! And all below S$ 10! *bukan posting berbayar*

Tapi lebih dari semua itu, yang paling saya suka adalah kalau kamu membelanjakan S$ 25 dalam satu struk, kamu akan bisa memilih satu buku gratis dari rak yang ada di Epilogue untuk kamu bawa pulang. Well, memang buku-bukunya adalah buku-buku lama, mungkin bahkan yang sudah lama nggak laku dijual di toko buku, but… who cares? A great book will always be one, whether it was written a year or centuries ago, whether it was displayed on a bookstore shelf or stacked on the storage ;)

So, yah… Epilogue memenuhi semua kriteria untuk menjadi writing cave favorit saya. Yang kurang cuma colokan untuk mengecharge laptop (tapi saya juga biasanya jarang bawa charger kok kalau pergi menulis di luar :p) dan WiFi (Internet is my biggest writing distraction, so I should consider this as a blessing instead of something to complain about, shouldn’t I?). 

But now, I have to say goodbye to this place. A café where many parts of my books were inspired by, developed, and written.




A café where I write, wait, or sometimes just sit back and stare at other customers (haha!).


 



A café where I’ve collected many free books from my (and my friends’) purchase, as well as memories.

The so-called wedding organiser meeting with Ellen :D


You’ll always be in my heart, Prologue and Epilogue. I hope someday I'll read a news headline stated "Prologue and Epilogue to make a comeback in Singapore". :)

Breakfast with God


Ini nama salah satu sesi di CIA Camp 2013 – Restoration kemarin, and I was in charge for this session. 
 
Memimpin sesi yang diadakan di Minggu pagi itu sebenarnya “errrr” banget! Apalagi, sesudah superb praise and worship nite malam harinya (ada dance floor segala!), yang dilanjut dengan jamming dan ngakak sampai tengah malam, pagi itu saya bangun dengan tenggorokan sakit – akibat kebanyakan nyanyi dan ketawa – plus mata berkantong karena kurang tidur. But, the session goes on, and this is what I shared. 
 
What daily devotion book do you use everyday? Me myself, have been using Our Daily Bread these two years. Here’s the thing I think is interesting: Why did they name the book “Our Daily Bread”? Why not “Our Daily Macaroons”, “Our Daily Cupcakes”, or “Our Daily Crème Brulee”? Some of my cellgroup peeps answered, “Soalnya zaman dulu belum ada kue-kue itu, Ci”, and the others said, “Sakit perut makan kue-kue gitu tiap hari”. LOL!
 
But, the true answer is this:
 
Because the Bible is meant to be bread for daily use, not cake for special occasions. 
 
Kita, sebagai orang Asia, makan nasi sebagai makanan pokok. Tapi di negeri asal Our Daily Bread, tentulah roti yang dijadikan makanan sehari-hari. And when do people usually have bread as their meal? Yep, during breakfast, in the morning.
 
Courtesy of: http://marcbuxton.files.wordpress.com/2013/06/20130609-145414.jpg?w=490
 
After years, I’ve found out that the most effective time to have my quiet time is in the morning. Before or after my physical breakfast, I need to have breakfast with God as well. Bukan hal yang gampang, karena di pagi hari kita biasanya ngantuk atau buru-buru, tapi kalau kita saat teduh di pagi hari, we’re gonna have the rest of the day to apply what we’ve read. Kalau malam, yaaah selain udah ngantuk, biasanya besok paginya juga udah lupa apa yang dibaca semalam :p
 
Dan kebiasaan SaTe ini nggak dibangun dalam satu-dua hari. Setelah hampir dua puluh tahun jadi orang Kristen, dilahirkan dari ortu yang juga Kristen sejak zaman opa-oma, barulah saya bisa, by God’s grace, memiliki SaTe yang rutin. 
 
Dulu, saya menganggap nggak punya waktu SaTe bukan sebagai masalah. Pikir saya toh, saya sudah diselamatkan, saya ke gereja tiap Minggu, dan saya bukan orang jahat, nggak SaTe tiap hari juga nggak apa-apa. 
 
I didn’t know that I was lost.
 
Sama seperti domba, dirham, dan anak yang hilang dalam perumpamaan di Lukas 15, saya tidak menyadari bahwa saya telah terhilang. Ketika Tuhan datang mencari dan mendapatkan saya, barulah saya sadar betapa jauhnya saya telah hilang selama ini. I didn’t do anything to get lost, and didn’t have to do anything to have found, except acknowledge that I’m lost. 
 
Even though we may not feel lost, if we have no relationship with God, we are. To be found, we need to realize that God is looking for us and admit that we are separated from Him. 
 
You think you’ve gone too far? Let me share you this. Bayangkan kamu sedang berada di India, mencari sebuah alamat. Kamu merasa kamu akan dengan mudah menemukan alamat itu, tapi… ternyata semua penunjuk nama jalan di India ditulis dalam bahasa Tamil! Tetap merasa optimis, kamu terus berjalan mencari alamat yang kamu tuju. Semakin lama, kamu menyadari bahwa kamu nyasar, sama sekali nggak berhasil menemukan alamat itu. Apa yang akan kamu lakukan? Berhenti dan bertanya, lalu putar balik kembali ke arah yang benar, atau tetap nyasar? Kamu merasa sayang untuk putar balik karena sudah berjalan jauh, tapi apa gunanya sudah berjalan jauh, kalau kamu menuju ke arah yang salah?
 
Nggak pernah ada kata terlambat untuk memulai sesuatu. If you are lost, admit it, and let the Good Shepherd find you. 
 
The first step is always the hardest. Don’t worry, I’ve faced the same struggle. I am still :p But try to have breakfast with God for the next 21 days. Research said that what you’ve been doing for 21 consecutive days will be your habit. Why don’t just give it a try?