Saturday, March 22, 2008

Macarin Anjing

Penulis: Christian Simamora
Penerbit: Gagas Media, 2007

Menurut Libby, anjing itu lebih baik dari cowok. Yah, seenggaknya anjing nggak bakal mengkhianati tuannya saat dia ingin majikan baru yang lebih cantik, nggak kayak cowok.
Prinsip itu pula yang mendorong Libby untuk mewanti-wanti para sahabatnya, Miata dan Bianca, agar nggak terlalu “tunduk” sama cowok. Apalagi sampai termehe-mehe.
Tapi waktu ketemu Nico, justru Libby yang termehe-mehe. Dia rela mempertaruhkan prinsipnya saat dekat dengan Nico. Tapi bagaimana kalau Nico justru sama parahnya dengan cowok-cowok yang lain?

Loves:
• Judulnya! Sumpah deh, baru kali ini saya nemu judul buku sebinal ini. Macarin, Anjing, coba! Plus tagline-nya: The more I meet guys, the more I love dogs. Ck! Sangat mencuri perhatian pada tatapan pertama di rak buku.
• Adegan pertamanya, saat Libby nonton telenovela Florecita Gadis Bunga. Ya ampuuun, aku sampai harus baca beberapa kali baru aku paham kalau Libby itu lagi nonton TV! Keren!
• Ide ceritanya cukup unik: cewek yang menganggap cowok lebih baik daripada anjing. Lumayan buat selingan di antara buku-buku fiksi jaman sekarang yang temanya gitu-gitu mulu.
• Daftar 15 Reasons Why A Dog Is Better Than A Man! Gilak! Sinting abis! Dan ada beberapa yang bener juga sih

Hates:
• Nama tokoh-tokohnya. Ehem, maaf aja nih, tapi hellloooooo! Apakah di Indonesia benar-benar ada manusia bernama Liberache, Nariano, Blythe, Lieben, Miata, Paloma, Brittany, dan sebagainya itu? Sorry to say nih ya, tapi ANEH aja gitu… Sekalian aja namain tokoh utamanya Marimar dan Luis Alfredo
• Banyak footnote nggak penting di beberapa bagian cerita. Ganggu banget!
• Apa perasaanku aja ya, tapi ceritanya agak bertele-tele gitu. BANYAK adegan yang sebaiknya dipotong aja, karena justru bikin pembaca malas melanjutkan ke halaman berikutnya.
• Yeah, saya ngerti kalau penulisnya suka nonton film, tapi nggak harus membandingkan setiap situasi dalam cerita ini dengan film yang dia tonton, kan? Malah terkesan berlebihan.

Overall, nggak rugi-rugi amat beli buku ini, walau jujur aja saya usaha mati-matian supaya baca buku ini sampai selesai. FYI, penulisnya adalah editor Raditya Dika untuk Radikus Makankakus, jadi awalnya saya berharap buku ini sama gebleknya dengan buku-buku Radit, tapi ternyata kagak… Ya sutralah… Setiap penulis punya gaya menulisnya sendiri, ya gak?

5 comments:

atalya said...

si penulis ini guruku juga steph! blrgh.. wkt diajar sm dia, braasa diteror. well, mgkn krn dy editor, dy jdi detail bgt klo ngritik naskah akuu. bwahaha..

Fenty Fahmi said...

I loved this book, keren banget, Si Ino bisa buat cerita yang nggak perlu nulis lo gue di bukunya, nggak malu nulis masih suka sama majalah remaja, nggak malu mengakui kalau cowok itu geblek ;p dan satu hal, dia suka momogi, waahh aku juga suka momogi soalnya, hehehe ...

Stephanie Zen said...

atalya: haha, geblek juga kayak radit gak? ;p

fenty: wah iyaya, saya br nyadar klo ga ada lo-gue nya :D tp sebenernya penggunaan aku-kamu atau lo-gue itu oke2 aja sih, lihat lokasi di mana ceritanya itu berlangsung, ya ga? :p ehh aku juga suka momogi hihi...

ampe said...

Ta dkung deh via sms tp bliin pls ya,he 3x. Buat deh buat band ny

cindy said...

well, momogi?
aku syukaaaa..:)