Monday, March 12, 2007

A Life


Penulis: Silvia Arnie
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama, Februari 2007
Harga: Rp. 23.000,-

Lunna dan Ginna benar-benar bagaikan bumi dan langit. Yang satu tomboi abis, sementara yang lain nggak bisa hidup tanpa peralatan make-up. Tapi mereka mencintai cowok yang sama: Roland. Alias Sandy. Atau entah alias siapa lagi. Yang jelas, cowok itu brengsek.
Dan sama sekali nggak pernah terbayang dalam benak mereka kalau akhirnya mereka bisa bersahabat (secara, waktu pertemuan pertama, mereka saling mencakar dan berguling-guling di lahan parkir!). Tapi memang itulah yang terjadi, dan siapa sangka ternyata mereka bisa saling membantu melewati masa-masa sulit?

Well, novel ini benar-benar… unpredictable. Sepanjang membaca, ceritanya bisa membuat pendapatQ berubah-ubah dengan cepat. Di satu paragraf, aQ bisa berpikir ‘duh, ini apa seehhh maksud ceritanya?!’, tapi di paragraf berikutnya, bisa saja penilaianQ berubah jadi ‘ya ampun… keren banget!’ aQ sendiri nggak tau kenapa, tapi sebelum-sebelum ini aQ nggak pernah baca buku yang seperti ini.

Plus:
· Idenya lucu aja: persahabatan dua cewek yang dulunya dilaba sama satu cowok, padahal sifat kedua cewek ini bener-bener bertolak belakang, yang mungkin kalau ada pemilihan Dua Orang Paling Nggak Mungkin Bersahabat Sedunia, aQ yakin mereka bakal menang (mengalahkan Ratu Felisha-Andien, maybe ;p).
· aQ suka metode ceritanya dari sudut pandang dua orang: Lunna dan Ginna. aQ jadi bisa tau gimana perasaan Lunna dan Ginna secara mendetail. Lucu banget waktu membaca tentang Ginna yang gemas pengin merapikan alis Lunna yang berantakan. Atau betapa bencinya Lunna waktu Ginna ngotot membelikannya baju-baju feminin demi menarik perhatian Mango (ehh… ini nama tokoh cowok di buku ini lho ya, bukan merek pakaian ;p)
· Puisi Setiap Detik Dalam Hidupku-nya bener-bener ‘ngena’ sama isi cerita, apalagi momen saat Lunna tau Sandy mengkhianati dia. Hebatnya, puisi ini bisa dijabarkan jadi cerita (seperti waktu Ginna menangis dan bilang “tapi aku sayang kamu…”, dan muncul baris puisi: dan tangis pun tak sanggup menggambarkan apa pun)
· aQ juga suka waktu Lunna dan Ginna saling cela tentang 34A dan 34B, haha!

Minus:
· Hmm… ya itu tadi, cara berceritanya bisa membuat pendapatQ berubah setiap lima menit sekali, sampai aQ bingung: sebenernya aQ suka buku ini nggak sehhh?!
· Penulisnya lupa satu hal: kalau cerita dalam buku ini dibuat dengan sudut pandang orang pertama, harusnya nggak ada bagian di mana si tokoh utama nggak ada, kan? Seperti bagian waktu teman-teman Lunna membicarakannya di warung bakso. Kenapa bagian ini bisa ada, padahal Lunna nggak ada di tempat itu? It seemed… I don’t know… weird?
· Ada yang mati di akhir cerita!!! Huh! aQ BENCI SEKALI kalau udah capek-capek baca satu buku, dan ternyata ada tokoh yang mati! Apalagi kalau matinya itu nggak penting-penting amat, dan alur cerita nggak akan terganggu seandainya tokoh ini tetap hidup (kalau matinya Jamie di A Walk to Remember siy emang HARUS, aQ rasa. Kalau enggak, ya nggak ada ceritanya dong!)

Overall, buku ini cukup bagus. Recommended buat yang udah bosan baca TeenLit yang isinya tentang cinta-cintaan melulu :)

No comments: