Monday, July 25, 2011

To Not be Tempted, and To Not be the Temptation Itself

Udah lama banget pengen posting ini, sejak awal pindah ke Singapore, tapi tertunda terus, hehehe.

Anyway, apa saya sudah bilang bahwa di Singapore buanyaaaaak cowok keren? Dalam perjalanan ke kampus aja, saya bisa nemuin lebih dari sepuluh cowok keren, lho! Di bus stop pas nunggu bus, di bus nya sendiri, di jalan, dan tentu saja… di kampus!

You started to wonder, “Bentar, ini maksudnya apa sih, mau pamer?”, didn’t you? :p

Sama sekali nggak mau pamer kok, tapi mau bagi berkat :)

Jujur aja ya, salah satu alasan saya menunda posting ini adalah karena… saya malu. Serius deh. Posting ini seperti membuka salah satu aib saya yang paling saya tutup-tutupi. Tapiii, saya pengen pengalaman saya ini bisa memberkati orang lain, dan melawan rasa malu saya, saya memutuskan untuk menulisnya.

Here we go!

I love… guys!

Errr… what’s wrong with that?

I love… good looking guys!

Ew… who doesn’t?

Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut. (Amsal 14 : 12)

Hal-hal yang dianggap “wajar” oleh dunia, sebenarnya merupakan hal yang tidak berkenan di mata Tuhan :(

Dunia bilang, “Bohong itu nggak papa, apalagi kalau demi kebaikan. White lie laaah!” Keluaran 20 : 16 bilang, “Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.”

Dunia bilang, “Kalau jadi orang jujur, nggak bakal bisa kaya!” Lukas 3 : 14 bilang, “Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu.”

Dunia bilang, “Cowok ganteng itu kan emang untuk dipandangi! Mengagumi ciptaan Tuhan, gitu loch!” Matius 5 : 28 bilang, “Setiap orang yang memandang perempuan (atau laki-laki) serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.”

Nah, bisakah kamu memandangi lawan jenismu yang menarik, tanpa menginginkannya dalam hatimu?

I found it reaaaaaaaaally hard to do.

Bukan berarti dalam pikiran saya ada adegan mesum lho ya, tapi belakangan saya menyadari, saya seringkali memandang good looking guys itu dengan “rakus”, seolah-olah semuanya mau saya telan, gitu.

*GLEK*

Saya sangat bersyukur Roh Kudus menegur saya ketika saya mulai memikirkan hal-hal yang tidak berkenan di hadapan Tuhan. Waktu ditegur, ampuuun rasanya malu banget! Kalau ada lubang di depan gue, gue loncat dah! Sayang (atau untung) nya nggak ada tuh lubang :p

Jadi, yah, itu mengingatkan saya, untuk menjaga mata saya.

"Aku telah menetapkan syarat bagi mataku, masakan aku memperhatikan anak dara (atau good looking guys, dalam kasus saya :p)?” (Ayub 31 : 1)

Tapi tentu bukan dengan cara pakai kacamata kuda, ya. Bisa dikira hang ntar :p

Saya berhasil menjaga mata saya dengan cara mengingat, bahwa pikiran-pikiran saya tidak tersembunyi di hadapan Tuhan, dan bahwa fokus hidup saya adalah untuk menyenangkan hati-Nya. Kalau udah mulai “rakus”, saya akan ingat bahwa Dia bisa mengetahui apa yang ada di kepala saya, dan saya akan sangat sedih jika mendapati apa yang ada di kepala saya itu ternyata tidak menyenangkan hati-Nya.

Well, that worked for me. Sekarang udah “kebal” lihat good looking guys, nggak ada hasrat ingin menerkam lagi, huehehe.

Nah, satu masalah selesai, timbul masalah lainnya.

Di Singapore sini, adalah hal yang sangaaaaat biasa melihat cewek pergi kuliah dengan tank-top dan hot pants. Rok mini, kemben, mini dress, semua baju kurang bahan, you name it, bertebaran di sini. Dan mungkin karena udah dianggap “biasa”, nggak ada juga cowok yang iseng godain atau jelalatan lihat cewek yang berpakaian seperti itu. Udah makanan sehari-hari sih, soalnya.

But you never know, rite?

Saya akan kasih tau kenapa ini jadi problem buat saya.

I have lost 11 kgs since last January, dan bagi seorang cewek, yang dulunya susah cari ukuran baju di toko but now can fits everything, adalah GODAAN YANG SANGAT BESAR untuk memakai baju-baju yang sebelumnya tidak pernah bisa dia pakai.


Dalam kamus saya, itu adalah tank-top, hot pants, dan sebangsanya (yaeyalah, dulu kalau gue pake baju beginian, yang ada gue kelihatan kayak bakcang! Mencuat di sana-sini, gitu! -_-). Apalagi, di sini baju-baju itu dianggap WAJAR. Dan nggak ada abang becak atau tukang parkir usil yang bakal godain. Situasinya mendukung banget, kan?

Tapiiii, saya pernah baca di salah satu buku Joshua Harris dulu (lupa apakah yang I Kissed Dating Goodbye, Boy Meets Girl, atau Sex is Not the Problem, Lust Is), betapa sangat baiknya bagi para anak-anak perempuan Tuhan, untuk turut berperan menjaga kemurnian para saudara laki-laki seiman di luar sana.

Cowok memang diciptakan dengan tingkat imajinasi seksual yang lebih tinggi dibanding cewek. Mereka bisa terangsang tanpa perlu ada film bokep atau cewek seksi lewat di hadapannya. Nah, kalau nggak ada “iklan” aja bisa, gimana kalau “iklan”nya seliweran terus di depan mata?

Ya ya, saya tahu, itu merupakan tanggung jawab mereka, kan? Nafsu nafsu mereka, ya mereka dong yang ngontrol! (My best friend even told me this: WHAT? Lagi-lagi yang disalahin kita, cewek-cewek??!) Tapi girls, alangkah mulia dan menyenangkannya, jika kita bisa turut ambil bagian dalam menjaga kekudusan saudara-saudara kita di dalam Tuhan.

Buat yang mau lebih detail, bisa baca Keeper of Brothers-nya Ci Lia di sini dan sini ya :) Bagus banget!

Balik lagi, tentang “godaan untuk menjadi godaan” yang saya alami. Sebagai cewek, saya tahu betul bahwa cewek-cewek menikmati jika tahu dirinya dikagumi dan bisa menarik perhatian para cowok. Ada rasa bangga yang meluap jika tahu ia bisa membuat seorang cowok menoleh dua kali. Tapi satu yang saya tahu juga, perasaan itu semu. Dalam sekejap, semua perasaan itu akan hilang, dan yang akan tersisa hanyalah perasaan hampa.

Kenapa kita, cewek-cewek, harus memuaskan pandangan semua cowok di luar sana? Kenapa kita harus memiliki semua perasaan dikagumi yang semu itu? Kenapa kita harus memajang apa yang tidak kita jual?

Tuhan memang menciptakan tubuh kita menarik, dan untuk memuaskan pria, tapi BUKAN sembarang pria dan BUKAN semua pria, melainkan hanya untuk suami kita sendiri kelak!

Hargailah dirimu sendiri, hargailah calon suamimu kelak (yang memang berhak atas tubuhmu), dengan menjaga tubuhmu dengan baik, mulai saat ini. Respect our brothers in Christ, yang mungkin tanpa sepengetahuanmu, menghadapi pertarungan yang sangat dahsyat melawan hawa nafsu dan keinginan daging mereka. Bantulah mereka, dengan tidak menjadi penggoda bagi mereka. Bantulah mereka menjaga kemurnian mereka. Kamu tetap bisa tampil cantik dan menarik kok, tanpa perlu jadi menggoda! ;)

Cara pertama untuk mengetes, apakah pakaian kita sudah cukup sopan, adalah dengan minta Papa, atau saudara laki-laki kita, menilai pakaian yang kita pakai, sebelum kita keluar rumah. Mereka cowok gitu lho, mereka tahu pakaian seperti apa yang bisa menimbulkan pikiran-pikiran tertentu. Dan mereka menyayangimu, pasti mereka ingin menjaga dan melindungimu juga ;)

Cara kedua, bisa dilihat dari dialog antara saya dan roommate saya, Jovi, sebelum saya berangkat ke Singapore.

Saya: Jop, di JCU (nama kampus saya, yang dulu juga kampus Jovi) kalau kuliah harus pakai kemeja atau baju yang ada kerahnya gitu nggak sih? Maksudku, kalau iya, aku bawa baju kayak gitu banyakan.
Jovi: Apaan.. di JCU juga ada yang kuliah pakai tank-top sama hot pants.
Saya: Oh, kalau gitu aku pakai tank-top sama hot pants aja ya kalau kuliah? *bercanda*
Jovi: Hah? Ya jangan lah!
Saya: Terus, pakai apa dong? *bercanda lagi*
Jovi: Pakai baju yang memuliakan Tuhan.
Saya: *jleb!* *speechless*

Sederhana ya, dan Jovi pun ngomongnya sambil bercanda, tapi itu bener-bener nancep-ceeeeep buat saya. Sekarang, sebelum saya keluar rumah, saya selalu ngaca dan bertanya pada diri saya sendiri (karena di sini nggak ada Papa atau adik cowok yang bisa saya mintai pendapatnya) apakah pakaian yang saya pakai sudah memuliakan Tuhan? Kalau jawabannya “belum”, nggak boleh kompromi, harus langsung ganti baju yang lebih sopan :D

Keep praying for me ya, so I won’t be tempted and won’t be the temptation itself :)

6 comments:

Rina Suryakusuma said...

Steph, I'll pray for you yaaaaa. good and tough decision buat nggak pake baju2 seksi, tapi pada akhirnya, semua taburanmu pasti ada tuaiannya. Be a good keeper for your brother :) so proud of you steph, apalagi tahu betapa keras perjuangannya utk 'body jejen' itu heheeee :)

Stephanie Zen said...

thank you, Cici *hugs*

hahaha iya, body jejen! :)) butuh perjuangan dan penyangkalan diri terus-menerus Ci, thank God I'm standing still, dan moga-moga akan gitu seterusnya ya :)

Anastasia said...

Dunia bilang, “Cowok ganteng itu kan emang untuk dipandangi! Mengagumi ciptaan Tuhan, gitu loch!”
Matius 5 : 28 bilang, “Setiap orang yang memandang perempuan (atau laki-laki) serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.”

jleb! jleb! jleb!

Stephanie Zen said...

wkwkwk gpp kak, aku pun merasa seperti dihunjam ribuan belati (halah) saat teringat ayat itu :p

tapi justru bagus ya kalau kita masih merasa tertampar begitu, karena itu pertanda Roh Kudus masih bekerja dalam hati kita, ya gak? :)

viryanikho said...

share aja nih, dulu pas duluu bgt gara2 kebanyakan nonton cinderella princess2 ga jelas.. gw jadi gampang berfantasi pgn punya pacar.. kayanya enak yaa di treat gt dll. tapi setelah jatuh bangun gagal pacaran, and God is so great He never give up on me. He really changes the way i see.. and think. skrg liat cowo cakep, gw emang masih ngeces LOH? wkwk. tapi lgsg ada pikiran lagi, is he cristian? is he a God fearing man? and so onnnn.. uda jauuuuhh bgt mikirnya makanya ga gampang kepikiran kali ya?

Tapiiiii iblis emang dahsyat! dia ga berenti cobain gw disana! pas gw liat ada co christian yg potential gt, i start mikir kejauhannnn juga.. is he the one God? blabalbal. hayyahhh bener ya segala sesuatu yang berlebihan ga bagus!! berlebihan mikir kejauhan jg g bagus :p

jadi pengen nulis panjangannya di blog gue! haha..

gpp teph bener kata anas, mengagumi karya Tuhan yg indah ;p

Stephanie Zen said...

hahaha bener, ni. kayaknya semua cwe pun gitu ya. aku juga mengalami yang kurang lebih sama kayak kamu (tapi sekarang lebih "terarah" ke God-fearing man, kalau kriteria itu udah ga masuk, langsung coret! :p), dan suka mikir kejauhan juga (apalagi otak penulis, huhuw.. imajinatif sekali, udah kayak bikin novel aja di kepala), tapi sekarang mulai melatih diri sih. ngelihat aja gpp, tp klo udh mulai "bikin novel di kepala", sebisa mungkin aku langsung doa, supaya pikiranku dialihkan dari hal-hal yang mungkin tanpa aku sadari, ternyata nggak berkenan di hadapan Tuhan :p

ayo ayo, tulis di blogmu juga dong tentang ini, pengen baca :)