Saturday, September 3, 2011

Tuhan Bukan Peramalmu!

I used to be this kind of person: each time there is a session where the preacher in the church want to pray for each of the congregation who attend the service, I prayed to God, “God, I want to know about this blablabalabla… please tell the pastor or the preacher to show me what should I do about this thing.”

Hahaha.

Tapi beberapa kali didoain, berapa kali juga saya “dikecewakan” karena apa yang didoain nggak nyambung dengan konfirmasi atau jawaban yang saya inginkan. Salah satunya bisa dibaca di sini, ketika saya pengen minta konfirmasi tapi malah didoakan untuk melepaskan beban yang, menurut saya, nggak saya pikul sama sekali. Wekeke.

Nah, semalam ada impartation night di gereja. According to Thesaurus, “impartation” means “the transmission of information”, atau “conveyance”. Dalam konteks “giving”, impartation juga bisa berarti “the imparting of news, promises, etc.” Kalau dalam Alkitab, impartation terjadi saat Tuhan Yesus menjanjikan dan menurunkan Roh Kudus kepada murid-muridnya.

Lukas 24:46-49
24:46 Kata-Nya kepada mereka: "Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga,
24:47 dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem.
24:48 Kamu adalah saksi dari semuanya ini.
24:49 Dan Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku. Tetapi kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi."

Kisah Para Rasul 2:1-4
2:1 Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat.
2:2 Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk;
2:3 dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing.
2:4 Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.

That’s what called “impartation”.

Jadi, semalam kita semua didoakan dan diimpartasi oleh preachernya, Ps. James Singh, yang karunia prophecy-nya luar biasa banget. Didoakannya giliran, pertama dari leaders, terus praise and worship team, lalu sisanya. Waktu mendoakan leaders sama praise and worship team, Ps. James minta yang belum dapat giliran untuk berdoa sendiri-sendiri dulu, buat persiapkan hati juga.

Nah, during this session, I used to pray what I’ve told you on the first paragraph of this post, tapi kemarin Tuhan sadarkan saya, bahwa dengan minta seperti itu… saya seperti menjadikan Tuhan peramal saya! You know kan, kayak kamu datang ke peramal dan bilang, “Suhu/Madam/etc, saya bingung nih.. saya harus pilih kerjaan A atau kerjaan B ya? Terus… harus milih cowok C apa cowok D?”


I used to come for my own benefit, untuk mendengar apa yang saya ingin dengar, bukan apa yang Tuhan ingin sampaikan ke saya! Selama ini saya sudah menjadikan Tuhan seperti peramal saya! >.<

Kesadaran ini bener-bener menampar saya, so, semalam instead of doa minta diberikan petunjuk seperti biasanya (yang adalah salah, hehe), I prayed, “God, please tell me what You want to say, not what I want to hear.”

I was cyring a lot during this preparation session, karena mengingat kasih dan kebaikan Tuhan, juga bahwa selama ini saya lebih sering mencari kehendak saya dan bukannya kehendak Dia.

When it came to my turn, I came forward, and Ps. James and his wife prayed for me. Saya juga berdoa dalam hati, “Tuhan, nyatakan kehendak-Mu. Sampaikan apa yang Tuhan mau sampaikan. Teguran, revelation, anything… I humble myself to listen.”

And then Ps. James prayed, “Bless her with this spirit of creativity…”

DEG!

I was like… How could he know??? He didn’t even know that I am an author!

FYI, I have been struggling to use this creativity not for my own benefit, but more to serve God. Dengan semua keterbatasan saya dalam menggali Firman Tuhan, saya pengen bisa menulis lebih banyak tentang Dia (terutama di blog ini) karena… I found out that writing is the best way for me to express how grateful I am for having such a great God! And it is also my best way to testify and share about Him! But I was a bit unconfident, because of my limitations. Jadi, didoakan supaya kreatifitas saya semakin diberkati sungguh menguatkan saya :) This is what I really need!

Isn’t it funny, that when we put everything in God’s hands and humble ourselves before Him, He eventually gives us what we’ve been looking for? Jadi, sekarang kalau ada yang mau mendoakan kita, jangan cuma minta Tuhan untuk kasih tau apa yang pengen kita dengar ya, tapi rendahkan diri sungguh-sungguh di hadapan-Nya, minta Dia untuk nyatakan apa yang memang Dia mau nyatakan. Jangan datang ke Tuhan hanya untuk minta jawaban dan kita nuntut jawaban itu harus datang secara instan. Ingat, Tuhan bukan peramalmu!

By the way, after that service I came to Ps. James and his wife to say thank you, and to say that their prayer has really encouraged me. I also told them that actually I am an author, and I’ve been struggling to write more about God, and not just what I want to write, but what God wants me to. They were quite surprise (but happy, I can say, hwehehe), and they advised me to keep praying and asking for wisdom from God, so that I could write more about Him :)

Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah … maka hal itu akan diberikan kepadanya. (Yakobus 1:5)

May my writings be blessed more and more, so I could bless others through it, amen!

No comments: