Monday, February 23, 2009

Jika TUHAN Menjatuhkan Batu

Seorang pekerja bangunan memanjat dinding tembok yang sangat tinggi. Pada suatu saat ia harus menyampaikan pesan penting kepada teman kerjanya yang ada di bawah.
Pekerja itu berteriak-teriak, tetapi temannya itu tidak bisa mendengarnya karena suara bising dari mesin dan orang-orang yang bekerja, sehingga usahanya sia-sia saja.
Karena itu, untuk menarik perhatian temannya itu, ia mencoba melemparkan uang logam di depan muka temannya. Temannya itu berhenti bekerja, mengambil uang itu lalu bekerja lagi. Pekerja itu mencoba lagi, tetapi usahanya yang keduapun memperoleh hasil yang sama.
Tiba-tiba ia mendapat ide. Ia mengambil batu kecil lalu melemparkannya ke arah temannya itu. Batu itu tepat mengenai kepalanya, dan karena merasa sakit ia menengadah ke atas. Sekarang pekerja itu dapat menjatuhkan catatan yang berisi pesannya.

TUHAN kadang-kadang menggunakan pengalaman-pengalaman yang menyakitkan untuk membuat kita menengadah kepada-NYA. Sering TUHAN memberi berkat, tetapi tidak cukup membuat kita menengadah kepada-NYA.
Karena itu, memang lebih tepat jika TUHAN menjatuhkan ”batu” kepada kita.

Suka banget deh sama ilustrasi ini. Singkat, tapi menyentuh

PS: ilustrasi diambil dari rubrik Kopi Hangat, Warta Jemaat GKI Ngagel, 22 Februari 2009.

4 comments:

rina said...

Ilustrasi yang bagus deh Steph ;-) Setuju, kadang batu itu perlu , ya =)

Stephanie Zen said...

iya Ci, soalnya kadang kita dikasih "uang logam" malah lupa menengadah, giliran dikasih "batu", baru deh ngeliat ke atas hihihi :p

rina said...

Hahaha, betul! betul sekali Steph. Kalau jalannya semulus tol, nanti malah terjadi celaka yang hebat. Kadang hambatan itu perlu ya, supaya kita berjalan lebih pelan, gak grasa grusu dalam hidup. Begitupun batu yang terkadang perlu supaya kita menengadah ya...

Stephanie Zen said...

yup Ci, bener banget :)