Saturday, January 21, 2012

Lapar

Saya jenis orang yang paling senewen saat… lapar. Self-defense saya adalah, who doesn’t? :p

Dulu waktu masih kerja kantoran, tiap jam makan siang tapi saya belum sempat makan (saking banyaknya kerjaan) dan ada telepon berdering atau tamu datang, saya langsung bilang dalam hati, “Awas aja, gue ‘habisin’ nih orang!” Hahaha! Menjelma jadi monster banget, pokoknya!

Courtesy of http://www.supercoloring.com/pages/hungry-demon/

Nah, seperti yang sudah saya tulis di atas, kebanyakan manusia sangat senewen saat ia lapar. Bukan cuma lapar secara jasmani, tapi juga lapar secara emosional (butuh perhatian tapi nggak ada yang memperhatikan, hingga akhirnya jadi uring-uringan), dan juga… lapar secara rohani (hubungan dengan Tuhan sedang renggang, hingga membuka celah bagi iblis untuk masuk dan membuat orang tersebut kehilangan damai sejahtera)!

Selain senewen, ada satu lagi kelemahan manusia saat ia “lapar”, ia cenderung kalap saat ada yang menawarinya “makanan”! Apa saja yang disodorkan ke depan hidungnya, pasti disamber! -_- Coba lihat contohnya:

Kalap saat lapar secara jasmani: kita kalap memesan segala macam menu di restoran, tapi terkaget-kaget ketika perut kita sudah nyaris meledak bahkan saat kita belum menghabiskan separuh dari pesanan itu.

Kalap saat lapar secara emosional: cewek yang sedang haus perhatian menelan mentah-mentah segala gombal rayuan pulau kelapa yang diluncurkan oleh seorang cowok playboy, hingga akhirnya menyerahkan segalanya.

Kalap saat lapar secara rohani: saat hubungan seorang remaja cowok dengan Tuhan sedang renggang, dan iblis menggoda dia untuk kembali ke dosa lamanya, yaitu pornografi. Si remaja cowok memutuskan untuk menuruti godaan itu “Sekali saja,” pikirnya, “setelah itu aku akan minta ampun sama Tuhan dan nggak nonton bokep lagi.” Oh boy, if only you knew what kind of trap you’re stepping into…

Guys, Jesus walked in our shoes. Everything that we have been through, Jesus went through. 

Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. (Ibrani 4:15)

Alkitab mencatat, Yesus pun pernah merasakan rasa lapar itu. 

After fasting forty days and forty nights, He was hungry. (Matthew 4:2 NIV)

Iblis sangat mengenali “saat-saat kritis” ini, karena itulah ia datang untuk mencobai Yesus saat Yesus sedang dalam kondisi kelaparan. Yang iblis nggak tahu… Yesus memang lapar secara jasmani (40 hari 40 malam nggak makan, bow! Saya, yang hobi makan ini, udah tewas kali -_-), tapi Dia tidak membiarkan diri-Nya lapar secara rohani!

Yesus boleh lapar secara jasmani, tapi rohani-Nya kenyang akan Firman Allah! Terbukti, ketika Iblis mengiming-iminginya dengan dengan berbagai macam hal, bahkan memakai Firman Allah yang dia gunakan dalam konteks seenak udelnya (untuk mendukung pencobaannya! Weeew, kurang ajar banget deh si iblis!), Yesus sudah siap dengan “serangan balik” yang lebih JLEB!

Iblis        : (datang sambil cengengesan) Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.

Yesus    : Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.

Iblis        : (nggerundel) (membawa Yesus ke bubungan bait Allah) Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu.

Yesus    : Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!

Iblis        : (ngelap keringet) (membawa Yesus ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya) Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku. (dalam hati iblis, “kali ini doi pasti nyerah!”)

Yesus    : Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!


Teman-teman, jangan biarkan diri kita lapar secara rohani. Lapar secara jasmani dan emosional mungkin tidak terelakkan, karena kita masih hidup di dalam tubuh manusia kita, tapi lapar secara rohani bisa kita hindari. Pemazmur kasih tips untuk kita:

Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau. (Mazmur 119 : 11)

Yesus menyimpan Firman Allah dalam hati-Nya, dan mengerti betul apa maksud dari setiap Firman itu, hingga segala interpretasi iblis yang ngawur akan Firman Allah tidak mempan bagi-Nya. That’s exactly what we should do! Stand firm in the Word of God! :)

"Therefore everyone who hears these words of mine and puts them into practice is like a wise man who built his house on the rock. The rain came down, the streams rose, and the winds blew and beat against that house; yet it did not fall, because it had its foundation on the rock.” (Matthew 7 : 24-25 NIV)

2 comments:

Anonymous said...

njotos bangett. JLEB aja dah

Stephanie Zen said...

thanksss! :D