Saturday, October 25, 2014

Where It All Began

Saya dapat banyak BANGET pertanyaan tentang gimana awal mula saya menulis dan menerbitkan buku. Karena saya nyaris nggak sempat untuk balas semua pertanyaan itu, muncullah ide yang nggak gitu jenius ini dalam benak saya: tulis saja di blog! Sekalian comeback-nya blog saya, yang baru kemarin saya bersihin dari pernak-pernik nggak penting dan saya balikin ke template standar, supaya lebih gampang dibaca ;)

So, here we go!

Dari kecil, saya suka baca. Setiap kali ultah dan ditanya sama tante dan om saya pengen kado apa, pasti tanpa ragu saya akan menjawab: buku! Segala jenis buku saya telan; mulai dari Doraemon (ada om saya yang rajin banget beliin saya Doraemon, nggak pernah lewat satu nomor pun!), cerita rakyat dari Jawa Timur, Jawa Barat, dan segala daerah di Indonesia, sampai novel Mira W (yang seharusnya belum boleh saya baca sebagai anak SD, tapi saya pinjam dari perpus sekolah, hahaha). Tanpa saya sadari, hobi membaca itu bikin saya jadi pintar menyusun kata-kata di kepala, karena saya jadi tahu bagaimana susunan kalimat yang enak dibaca, penggunaan tanda baca yang benar, sampai pemilihan kata yang tepat.

To be a good writer, you must first be a good reader!

Selain banyak baca, percaya nggak percaya, saya belajar menulis dari... menulis diary! Dari kelas 4 SD, saya sudah belajar nulis buku harian. Saya ingat banget, buku harian saya yang pertama itu warna kuning, sampulnya gambar Sailor Venus, bwahaha! Masih ada tuh buku hariannya di rumah saya di Surabaya, tersimpan aman bersama buku-buku harian yang lain. Dari nulis buku harian ini, saya belajar menuangkan apa yang saya alami hari itu, apa yang mata saya lihat, dan apa yang ada di kepala saya, ke atas kertas. Selangkah lebih maju setelah sebelumnya susunan-susunan kalimat itu hanya ada di kepala.

Nggak, diary saya nggak sekece ini. Ini image cantik dari Pinterest :)

Lalu, datanglah suatu hari di kelas 5 SD, di mana saya mau... ngirim surat cinta ke gebetan saya! Hahaha, serius, ini pertama kalinya saya mengakui hal ini kepada khalayak ramai! Dan, sebagai tukang bikin rencana yang ciamik, saya pun menyiapkan mesin tik, supaya saya nggak perlu nulis pakai tulisan tangan dan gebetan saya nggak tahu surat itu dari saya. Kalau gitu, apa gunanya nulis surat cinta, ya? Oh well, kayak gitu deh pokoknya. Namun, di tengah jalan, nyali saya ciut. Padahal, saya sudah siap dengan mesin tik, dan mau diapakan segebok kertas HVS yang saya beli dari tempat fotokopi di sekolah?

Nggak tahu dari mana, muncullah ide ini di kepala saya: bikin cerpen. Mungkin desakan kalbu yang sudah lama terpendam, kali ya? Jadilah saya menulis cerpen... yang bertema horor! Hahaha! Melibatkan Hotel Niagara, kemenyan, wangi bunga melati, dan entah apa lagi. Saya nggak ingat apa judul cerpen itu, tapi rasanya saya juga nggak mengirim cerpen itu ke manapun. It's just another milestone in my writing career :)

Kelas 1 SMA, untuk pertama kalinya saya baca novel TeenLit, dan guess what novel apa itu? Yoi bro, Dealova! *hail, Dyan Nuranindya!* Novel paling hits sejagad yang dibawa teman saya ke sekolah dan dibaca di tengah-tengah jam pelajaran! Saya pinjam, baca, dan... jatuh cinta. I told myself, this is the kind of story I have been wanting to write! Tapi, waktu itu saya masih nggak ngerti gimana caranya menerbitkan novel. Clueless.

Pucuk dicinta, ulam tiba. Diadakanlah Sayembara Lomba TeenLit Writer 2005, yang saya ikuti dengan membabi-buta! Bayangin aja, dalam tiga bulan saya bisa menyelesaikan dua naskah dengan komputer saya yang waktu itu masih Windows 1995, bentuknya kubus, dan naujubile lamanya loading kalau habis dinyalain! Saya kirim dua naskah itu ke panitia lomba, dan... nggak menang! Hahaha. Yaeyala.

Kira-kira kayak gini deh komputer yang saya pakai nulis dulu *sob*

Tapi setelah itu, saya nggak menyerah. Kenapa? Karena gara-gara lomba itu, saya jadi tahu gimana caranya ngirim naskah ke penerbit, syarat-syarat teknis yang kedengarannya sepele tapi bisa sangat menentukan apakah redaksi fiksinya bakal ilfil sama naskah kamu atau nggak (panjang naskah, font size, spacing, dll), dan seterusnya.

Bersama komputer kubus saya, saya berjuang menulis lima naskah lagi dalam kurun waktu setahun (mak, produktif amat gue waktu itu, yak? Kombinasi dari keteguhan hati dan belum adanya smartphone serta social media!), dan semuanya... DITOLAK! Hahaha. Tapi memang beberapa tahun kemudian saat saya baca ulang lagi naskah-naskah itu, saya ngebatin, "Pantesan ditolak...". LOL.

Setelah perjalanan panjang, lima kali ditolak (untung nggak pakai di-PHP dulu), akhirnya naskah ke-enam yang saya kirim diterima. Judul aslinya 2nd, tapi akhirnya diterbitkan dengan judul Anak Band. Wuah, itu bangganya nggak ketulungan. Saya pajang covernya di tiga profil Friendster saya (helooo, itu tahun 2006, semua orang masih main Friendster!), dan saya nulis ucapan terima kasih sepanjang 3 halaman, yang membuat editor saya geleng-geleng kepala, haha!

Setelah menerbitkan novel pertama dan mengecap nikmatnya popularitas penulis pemula, saya dihadapkan pada kenyataan pahit bahwa menerbitkan novel kedua itu lebih susah dari novel pertama! Karena, meski mungkin baru sedikit, kamu sudah mulai punya pembaca. Kamu sudah mulai punya orang-orang yang menaruh harapan pada karyamu. Editormu sudah mulai menuntutmu untuk menghasilkan tulisan yang lebih baik dan nggak membolehkanmu menulis ucapan terima kasih sepanjang tiga halaman lagi. Saya berjuang, guys. Serius. Butuh lima naskah lagi yang ditolak setelah Anak Band, sampai akhirnya naskah berikutnya disetujui. Kalian tahu buku apa ini. It's Dylan, I Love You! :)

Sudah cetak ulang ganti cover, yay!

Sudah menerbitkan dua buku, dan mengalami penolakan pada belasan naskah di antaranya, membuat saya mulai menemukan gaya menulis saya. Saya tahu apa yang saya suka, saya tahu apa yang akan disukai pembaca saya. Dan lebih dari semua itu, saya akhirnya tahu bahwa menulis bukan hanya hobi saya, tapi juga passion saya. Saya menikmati kata-kata yang hadir di atas kertas dari imajinasi saya, gemetar setiap pertama kali menyentuh contoh cetak buku saya, masih merasakan that-butterfly-effect in my tummy setiap kali ada yang bilang mereka menyukai karya saya... ah, I'm really grateful for that.

Pasca Dylan, I Love You!, puji Tuhan saya nggak pernah lagi ditolak atapun menyatakan cinta. Semua naskah saya melaju dengan mulus, dan tidak lagi dihasilkan melalui komputer kubus. Saya berhutang pada banyak orang untuk semua yang sudah saya raih sekarang, dan terutama, saya berhutang pada kalian, pembaca. Terima kasih ya, untuk semuanya.

Untuk kalian yang ingin jadi penulis, saran saya: banyak baca, banyak nulis, baca lagi, nulis lagi, jauhkan smartphonesmu, log out dari semua social mediamu, baca lagi, nulis lagi, nonton film yang bagus, baca lagi, nulis lagi. Don't give up.

Naskah yang ditolak hanya naskah yang tertunda untuk diterbitkan. Kalian tahu apa salah satu naskah saya yang dikembalikan saat Lomba TeenLit Writer 2005? Thalita. Yep, Thalita yang bertahun-tahun setelah saya tulis untuk pertama kalinya, saya revisi habis-habisan, saya kirim lagi ke penerbit, dan diterbitkan. Memang, setiap naskah punya jalannya sendiri.

Oh, kalau mau tahu cara lengkap dan ke mana harus mengirim naskah, bisa klik di sini atau di sini ya. All the best!

Salam sayang,
Stephanie Zen

3 comments:

Chubby Joon said...

Wow inspirasi ��
Keren kk,dari SMA smpe skrg ditemani novel2 kakak. Dylan �� ❤Daughtry ��
Kakk sy pendeta, dia suka sekali novel kk yg Between the raindrops. Novel yg memberkati kk ��
Tetap smgt kk, ditunggu karya2 kaka yg lain. Jesus Bless You kak. ☺��

bertha said...

pernah ga kak kirim satu naskah ke dua penerbit sekaligus di waktu bersamaan?

Nurul Fadila said...

Aku pertama kali baca novelnya brondong lover. Jaman jaman Sma. Novel yang kedua perhaps u..aku sukaaaaaaaaa banget..kalo bisa ada lanjutannya#ngarep