Wednesday, July 31, 2013

Breakfast with God


Ini nama salah satu sesi di CIA Camp 2013 – Restoration kemarin, and I was in charge for this session. 
 
Memimpin sesi yang diadakan di Minggu pagi itu sebenarnya “errrr” banget! Apalagi, sesudah superb praise and worship nite malam harinya (ada dance floor segala!), yang dilanjut dengan jamming dan ngakak sampai tengah malam, pagi itu saya bangun dengan tenggorokan sakit – akibat kebanyakan nyanyi dan ketawa – plus mata berkantong karena kurang tidur. But, the session goes on, and this is what I shared. 
 
What daily devotion book do you use everyday? Me myself, have been using Our Daily Bread these two years. Here’s the thing I think is interesting: Why did they name the book “Our Daily Bread”? Why not “Our Daily Macaroons”, “Our Daily Cupcakes”, or “Our Daily Crème Brulee”? Some of my cellgroup peeps answered, “Soalnya zaman dulu belum ada kue-kue itu, Ci”, and the others said, “Sakit perut makan kue-kue gitu tiap hari”. LOL!
 
But, the true answer is this:
 
Because the Bible is meant to be bread for daily use, not cake for special occasions. 
 
Kita, sebagai orang Asia, makan nasi sebagai makanan pokok. Tapi di negeri asal Our Daily Bread, tentulah roti yang dijadikan makanan sehari-hari. And when do people usually have bread as their meal? Yep, during breakfast, in the morning.
 
Courtesy of: http://marcbuxton.files.wordpress.com/2013/06/20130609-145414.jpg?w=490
 
After years, I’ve found out that the most effective time to have my quiet time is in the morning. Before or after my physical breakfast, I need to have breakfast with God as well. Bukan hal yang gampang, karena di pagi hari kita biasanya ngantuk atau buru-buru, tapi kalau kita saat teduh di pagi hari, we’re gonna have the rest of the day to apply what we’ve read. Kalau malam, yaaah selain udah ngantuk, biasanya besok paginya juga udah lupa apa yang dibaca semalam :p
 
Dan kebiasaan SaTe ini nggak dibangun dalam satu-dua hari. Setelah hampir dua puluh tahun jadi orang Kristen, dilahirkan dari ortu yang juga Kristen sejak zaman opa-oma, barulah saya bisa, by God’s grace, memiliki SaTe yang rutin. 
 
Dulu, saya menganggap nggak punya waktu SaTe bukan sebagai masalah. Pikir saya toh, saya sudah diselamatkan, saya ke gereja tiap Minggu, dan saya bukan orang jahat, nggak SaTe tiap hari juga nggak apa-apa. 
 
I didn’t know that I was lost.
 
Sama seperti domba, dirham, dan anak yang hilang dalam perumpamaan di Lukas 15, saya tidak menyadari bahwa saya telah terhilang. Ketika Tuhan datang mencari dan mendapatkan saya, barulah saya sadar betapa jauhnya saya telah hilang selama ini. I didn’t do anything to get lost, and didn’t have to do anything to have found, except acknowledge that I’m lost. 
 
Even though we may not feel lost, if we have no relationship with God, we are. To be found, we need to realize that God is looking for us and admit that we are separated from Him. 
 
You think you’ve gone too far? Let me share you this. Bayangkan kamu sedang berada di India, mencari sebuah alamat. Kamu merasa kamu akan dengan mudah menemukan alamat itu, tapi… ternyata semua penunjuk nama jalan di India ditulis dalam bahasa Tamil! Tetap merasa optimis, kamu terus berjalan mencari alamat yang kamu tuju. Semakin lama, kamu menyadari bahwa kamu nyasar, sama sekali nggak berhasil menemukan alamat itu. Apa yang akan kamu lakukan? Berhenti dan bertanya, lalu putar balik kembali ke arah yang benar, atau tetap nyasar? Kamu merasa sayang untuk putar balik karena sudah berjalan jauh, tapi apa gunanya sudah berjalan jauh, kalau kamu menuju ke arah yang salah?
 
Nggak pernah ada kata terlambat untuk memulai sesuatu. If you are lost, admit it, and let the Good Shepherd find you. 
 
The first step is always the hardest. Don’t worry, I’ve faced the same struggle. I am still :p But try to have breakfast with God for the next 21 days. Research said that what you’ve been doing for 21 consecutive days will be your habit. Why don’t just give it a try?

No comments: