Monday, February 21, 2011

Nggak Suka Ngerepotin, Jadi Nggak Suka Direpotin

Saya punya satu prinsip yang, sebelum ini, cukup kekeuh saya pegang:
Aku nggak suka ngerepotin orang, jadi aku juga nggak suka direpotin.
Serius lho, bukannya mau nyombong, tapi saya benar-benar menghindari untuk merepotkan orang lain. Semua pekerjaan, sebisa mungkin saya selesaikan sendiri. Kalau nggak benar-benar kepepet, haram hukumnya minta tolong.

That's why, saya bete banget seandainya ada orang yang "melimpahi" saya hal-hal sepele untuk dikerjakan, sementara saya tahu pasti, orang tersebut sangat bisa menyelesaikannya sendiri.

Tapi, belakangan ini terjadi suatu hal yang memaksa saya mengkaji ulang prinsip ngotot saya tersebut.

FYI, saya sedang mengurus segala sesuatu untuk (jika Tuhan mengizinkan :D) melanjutkan studi ke Singapore pertengahan tahun ini. Ada teman saya di Singapore yang membantu saya mengurus semua dokumen dan segala tetek-bengek itu.

Nah, semua dokumen dan data yang diperlukan sudah saya kirim sejak awal tahun lalu, tapi ternyata ada satu lagi yang masih kurang, namanya subject synopsis.

Dokumen bernama subject synopsis ini sendiri nggak ada pada saya, tapi ada di college tempat saya mengambil D3 dulu. Teman saya yang mengurus segala sesuatu di Singapore itu (kebetulan adik tingkat saya pas kuliah D3) sudah mencoba menghubungi marketing college kami untuk minta dokumen itu, tapi entah kenapa, baik dihubungi maupun dimintai tolongnya suliiiit sekali. Satu yang saya duga, mungkin karena orang marketing ini juga sudah resign dan bekerja di tempat lain.

Sadly to say, kalau dokumen itu nggak disertakan, saya akan diperhitungkan oleh pihak university di Singapore sana sebagai lulusan SMA, bukannya D3, yang berarti harus mengambil subject lebih banyak, dan more subject means more money to be provided :(

Kemarin-kemarin saya sempat kesal sendiri, dan mengomel, "Kenapa sih si ex marketing nggak mau bantuin? Dia bisa lho minta dokumen itu, bukannya nggak bisa. Gitu aja nggak mau bantu!"

Tapi setelah mengomel, suara itu muncul di hati kecil saya, "Kamu juga sering gitu, kan? Nggak mau direpotin? Ngomel-ngomel kalau nolongin orang, karena sebenarnya kamu bete dimintai tolong?"

GOSSSSSH, serasa ditampar pipi kanan dan kiri sekaligus!

Dan saya cuma bisa tertawa miris saat itu, mengingat betapa saya pun sekarang sedang "merepotkan" orang lain. Saya toh nggak tau si ex marketing kampus saya sekarang sibuk atau nggak, atau apakah memang benar-benar mudah bagi dia untuk memberikan subject synopsis itu, kan? Segala sesuatu tidak selalu seperti yang kita pikirkan.

Jadi, ya... saya berdoa minta ampun pada Tuhan atas segala "ke-enggak mau repot-an" saya selama ini. Saya minta ampun karena sudah begitu banyak orang yang seharusnya bisa saya bantu tapi pada akhirnya tidak, karena keengganan saya itu.

Tanpa saya sadari, selama ini ada begitu banyak orang yang telah menolong saya, bukan? Keluarga, teman-teman, rekan kerja...

Perlahan, kekolotan saya terkikis, dan saya bersyukur, Tuhan izinkan saya mengalami kesulitan itu hingga saya menyadari, bahwa NGGAK MUNGKIN saya hidup di dunia ini tanpa saling menolong dengan orang lain :)

Anyway, akan halnya subject synopsis itu, si ex marketing masih belum bisa dikontak lagi, tapi saya berhasil meminta tolong salah satu ex dosen saya yang baiiiiik sekali. Beliau bersedia membantu, dan sekarang sedang dalam proses untuk memintakan subject synopsis itu. Thank you and God bless you, Mr. Edwin :)


"Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus." (Galatia 6 : 2)

No comments: