Tuesday, March 19, 2013

You're My #1

Hayooo ngaku, sebagian dari kita, jika disuruh mengucapkan bunyi 10 Hukum Taurat a.k.a 10 Perintah Allah, selalu mulai dengan “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku”, bener nggak? Padahal, ada “kata-kata pendahuluan” yang diucapkan Tuhan Allah sebelum memberikan 10 Hukum Taurat itu. Yuk, kita cek dulu Keluaran 20:


20:1 Lalu Allah mengucapkan segala firman ini:

20:2 "Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan.


20:3 Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.

Kita sering melupakan apa yang diucapkan Tuhan di ayat 2, "Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan.” Ngapain sih Tuhan pakai harus menjelaskan siapa diri-Nya segala? Bangsa Israel harusnya sudah tahu dong Tuhan itu siapa?


Yes, they knew, but God had few reasons why He should “introduce” Himself again before the Israelites. Dia harus memberi alasan, mengapa Ia berhak memberikan 10 Hukum Taurat pada bangsa Israel. Perintah-perintah dalam 10 Hukum Taurat itu beneran nggak gampang lho, terutama hukum pertamanya, tapi Allah berhak mendapat tempat nomor satu di hati kita karena:


1. Siapa diri-Nya.

Nama Tuhan yang dipakai di dalam “akulah TUHAN” di sini adalah “YHWH atau Yehova”. Nama Yesus dalam bahasa Ibrani juga adalah “Yehova” yang artinya “menyelamatkan”. Jadi, dengan menyebutkan nama-Nya, Tuhan mau bilang, “Aku penyelamatmu”, bukan “Aku Tuhan yang kejam maka kamu harus mematuhi Aku!”

2. Apa yang telah Dia lakukan.

Misalnya nih ya, ada orang asing yang minta menjadi prioritas dalam hidup kita, padahal orang itu nggak pernah melakukan apa-apa buat kita, dan dia bukan siapa-siapa kita, tentu dia nggak layak mendapat prioritas dalam hidup kita. Tapi Tuhan layak mendapatkannya. Di bangsa Israel, karena Dia sudah membebaskan mereka dari perbudakan. Di hidup kita, karena Dia sudah membebaskan kita juga dari perbudakan dosa, dengan memberikan Yesus di kayu salib.

By the way, this is what I love about the Bible. It’s relevant few years ago, it’s relevant today. It will still always be relevant tomorrow and forever, no matter what. Jika Alkitab hanyalah sebuah buku yang ditulis oleh manusia, tidak ada The Great Designer di baliknya, Alkitab nggak akan tetap relevan hingga sekarang.


Contoh kecil aja nih ya, jika ada novel saya yang akan dicetak ulang, ada kalanya saya harus merevisi novel saya karena ada hal-hal yang mungkin sudah tidak relevan dengan perkembangan zaman. Misal, penggunaan pager. Who’s using pager nowadays, rite? Even the cavemen don’t!


Nah, itu terjadi karena novel-novel saya hanya buku yang diilhami oleh hikmat manusia. Nggak seperti Alkitab, which is the Word of God Himself. Pernah dengar Alkitab direvisi saat akan cetak ulang? Nggak, kan?



Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi Firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya. (Yesaya 40:7)

Oke, balik ke topik “jangan ada padamu Allah lain di hadapan-Ku”. Kalau tadi kita sudah tahu kenapa Allah layak memberikan perintah itu, sekarang kita harus tahu, apa sih maksud perintah ini?





Anyone, or ANYTHING! Nggak ada satupun hal, atau pribadi, yang boleh menginterupsi hubungan kita dengan Tuhan. Dalam bahasa aslinya, bentuk “allah lain” dalam Keluaran 20:3 itu plural, jamak, bukan hanya satu. Allah lain bukan sebatas patung yang kita sembah, tapi hal yang bisa menjadi andalan dan sumber kesenangan kita selain Tuhan. Nih, kita bisa lihat contoh allah-allah lain dalam kehidupan kita:

Pacar/gebetan bisa menjadi sumber insecurity kita. Kalau dia nggak balas BBM atau Whatsapp, kita langsung ngamuk, “mana nih si kutu kupret nggak balas-balas?” lalu kita jadi bad mood. Hey, don’t let your happiness depend on something you may lose! Nggak lucu banget deh, berbunga-bunga karena satu orang, tapi bisa nangis darah karena orang yang sama. It’s unhealthy for you!


Banyak orang yang menjadikan harta sebagai “tuhan”nya. Menghabiskan waktunya hanya untuk mencari harta, atau menjadikan harta sebagai andalannya.


Karier atau pendidikan. Bukan berarti kita nggak boleh mengejar karier atau prestasi. Tapi yang Tuhan mau adalah dalam pengejaran akan karier maupun prestasi itu, kita juga melibatkan dia. Lebih dari itu, kita MENGUTAMAKAN Dia. Pemilihan perusahaan tempat bekerja, sekolah, JC, Poly, kampus… kita mengutamakan kehendak-Nya dibanding kehendak kita sendiri.


Pelayanan TIDAK SAMA dengan Tuhan! Pelayanan bisa mempunyai motif lain yang bukan Tuhan semata: popularitas (melayani cuma karena pengen “tekenal” di gereja), pelampiasan ego (I love to preach, I’m gonna preach! Hello… I know you love to preach, but you gotta love JESUS!), menyalurkan hobi (daripada di rumah atau kost nggak ada keyboard or piano, mending main di gereja). Bahkan hal yang, katanya, dilakukan untuk Tuhan pun, belum tentu benar-benar kita lakukan bagi-Nya.


Ritual keagamaan, seperti perjamuan kudus. Kita melakukan perjamuan kudus sebagai pengingat akan apa yang Tuhan lakukan. Bukan berarti kalau ada yang sakit lalu diberi perjamuan kudus, kerasukan setan diberi perjamuan kudus. Lama-lama perjamuan kudus malah menjadi allah kita, menggantikan tempat Allah sendiri. Sama seperti orang Farisi yang begitu “mendewakan” hari sabat, tapi lalu melupakan Sang Pemilik hari Sabat sendiri, kita akan menjadi tidak berkenan di hadapan Allah. 


Kita mungkin menertawakan bangsa Israel zaman dulu yang terus menerus dicobai untuk menyembah patung-patung yang terbuat dari kayu atau batu, atau bahkan dari emas atau perak.  Kok bego banget sih mereka? Masalahnya adalah mereka bayangkan bahwa barang-barang yang tidak berguna itu bisa menggantikan Tuhan dan memberikan mereka kebahagiaan.


Coba kita bayangkan “allah” modern kita yang sekarang bisa menggantikan Tuhan, alias hal-hal selain Dia yang menjadi idaman hati kita: sebuah Rolls Royce baru, tas rancangan desainer, rumah baru, pacar atau gebetan yang membuat kita merasa bahwa kita tanpanya hanyalah butiran debu…


Setiap orang memiliki pencobaan tersendiri atas “allah lain di hadapan-Ku” ini. Satu yang perlu kita sadari, tidak akan pernah ada ada ujung bagi allah-allah lain ini. Semua pemujaan pada hal selain Allah pada akhirnya hanya akan meninggalkan perasaan pahit dan tertipu, karena seperti halnya ilah-ilah orang Israel yang dibuat oleh tangan, setiap allah lain itu menjadi debu di tangan kita.


Sekarang, bagaimana menghindari hadirnya allah-allah lain dalam hidup kita ini?  


Always start a new day by talking to God before you talk to anyone else.. including your handphone! Bangun pagi jangan yang pertama dicari BlackBerry atau smartphonenya dulu, tapi Tuhan :)  


Ada apa-apa, cerita sama Tuhan dulu. Aku tahu pasti kita punya seseorang yang selalu menjadi “ember curhat” kita. Ada apa-apa, kita selalu cerita sama dia dulu. Entah teman, saudara, atau ortu kita. Satu hal yang perlu kita ingat, mereka nggak mungkin selalu ada setiap waktu. Di lain pihak, Tuhan selalu ada setiap waktu. He says, I will never forsake you nor abandon you. He is available 24/7. Don’t take it for granted!  


Rasul Paulus, orang Yahudi dengan status sosial yang sangat tinggi di zamannya, menulis:


Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus. (Filipi 3:7-8)

Ia menyadari bahwa setelah mengenal Kristus, dia menganggap semua status sosialnya tidak berarti lagi, bahkan hanya senilai sampah! Setiap kali kita memiliki allah lain, ingatlah perkataan Paulus ini dan belajarlah darinya. Pada akhirnya kita akan menyadari bahwa semuanya itu hanya sampah.


Saya tahu bahwa menjadikan Tuhan sebagai nomor satu di hidup kita itu nggak mudah. Tapi ingatlah, Tuhan tidak pernah meminta kita untuk melepaskan sesuatu kecuali terlebih dahulu Dia tunjukkan betapa berharganya Pemberian yang telah dia berikan pada kita. Dia tidak pernah meminta kita menyerahkan boneka jelek di tangan kita sebelum Dia meletakkan bayi Yesus yang hidup dan berharga di palungan. Dia nggak pernah meminta kita hidup bagi-Nya, sebelum Dia sendiri memberikan hidup Anak-Nya yang tunggal di kayu salib.



For God so loved the world that he gave his one and only Son, that whoever believes in him shall not perish but have eternal life. (John 3:16)

If He demands us to put Him as our number one, believe me, He has first put us as His number one. 


Tuhan memberkati :)

1 comment:

Ellen said...

Wah pas banget nih, aku emang lagi bingung banget masalah allah lain ini. Tapi aku mau tau deh kak (misal kondisinya aku ini penggemar suatu girl group) kalo aku tetap lanjut fangirling sama aja kayak ngejadiin mereka tuhan nggak sih?