Monday, August 25, 2008

Missing You... (Part II)

Hhhh… jadi bingung harus gimana nulisnya.
Tapi bener deh, saya lagi kangeeeeeeennnnnn berat sama orang yang pernah saya ceritain di sini.
Belakangan kayaknya semakin menjadi-jadi. Dan saya jadi agak dangdut sedikit: mau makan ingat dia, mau tidur ingat dia, nggak enak banget pokoknya.
Yah, karena... seperti yang udah pernah saya posting empat bulan lalu itu, I’ve been loving him for SIX YEARS. Since we were in junior high!
Lucu aja rasanya, suka dia selama enam tahun, dan sudah hampir lima tahun he went overseas, tapi saya masih selalu kebayang-bayang dia. Is this the characteristic of true love?
Karena kalau iya, kasiaaaaannn deh gue!
We’ve never been in a relationship. But I loved him like hell. Habis-habisan. Ampun-ampunan. Dan setelah dia pergi keluar negeri, satu-satunya yang saya dapat dari dia hanya testimonial Merry Christmas saat Natal dua tahun lalu? Ohh... adakah yang lebih menyedihkan dari ini?
Dan semalam, saya mimpi dia! Konyolnya, he was holding my hand in that dream. Saya tahu, kedengerannya bego banget *dan mungkinkah saya kena pelet?*, tapi saya seriiiiiiinggg banget mimpi dia. Plus, mimpi saya tentang dia selalu yang indah-indah. Totally reverse from the reality.
Hmm… tapi kalau diingat-ingat, he did hold my hand six years ago. In our class Kayaknya goblok banget ya, bukan pacar kok megang tangan, tapi entahlah… waktu itu saya merasa… he loved me too.
Only GOD knows why we’ve never been in a relationship.
Waktu saya cerita sama Mama kalau saya mimpiin cowok itu terus, Mama bilang, “Jangan-jangan dia memang bener jodohmu, lha nggak pernah pacaran kok ya kebayang-bayang terus?”
Haha, siapa tau, Ma?
Yang jelas, saya nggak mau maksain diri. Beberapa tahun lalu saya pernah juga suka habis-habisan sama seorang cowok *satu-satunya yang nyaris mendepak my-probably-true love dari ingatan saya selama beberapa waktu*, dan saya kayak maksain diri gitu ke TUHAN. Mungkin kalau bisa diilustrasikan, saya seperti bilang: I WANT HIM, GOD!
Dan tau nggak, saya disadarkan dengan cara yang dahsyat banget, bahwa substitute-guy itu bukan untuk saya. It’s like GOD Himself slapped me down. Dan saya sadar, kok saya bisa-bisanya kepengin mengendalikan TUHAN, memaksakan cowok yang saya suka untuk jadi milik saya?
But I recovered now. Dan saya nggak mau mengulangi kesalahan yang sama. Karena jika sekarang saya bisa melupain substitute-guy itu dan bener-bener menerima he’s not for me, saya nggak yakin apakah saya bisa melakukan hal yang sama kalau itu terjadi pada my-probably-true-love.
Jadi, sekarang saya cuma bisa berdoa, if he’s the one, Dear GOD, I know YOU have the plan.
If he isn’t, well… I have faith that You’ll send me a better one

2 comments:

rina said...

Stephhhh, hang on there ya ;-) cowokmu itu masih di luar negeri? send email aja Steph, fwd2 an gitu. Bukan ngejar atau maksain, simply untuk nunjukkin dan ngingatin, kalau kita exist. Who knows the rest will follow ;-)
Nggak apa-apa Steph, Tuhan tahu kok yang terbaik buat kita. Have faith kalau suatu saat, soulmate kamu bakal muncul, oke ;) hugs from here, ya =)

Ajeng Sueztika said...

ah, stephie.....
kita bahkan punya kisah yang mirip....
cuma bedanya dia ada di abroad, kalo dia-nya aku ada di dekatku
sekampus bahkan
aku suka dia 5 taunan lebih
dan suka dilanda euforia berlebihan kalo dia meninggalkan jejak di henpon, fs, email, atawa dirumahu..
Aku juga pernah nyaris switch dia sama orang dan doa juga "Plis God, i want Him (seorang yang baru itu) as my soulmate" tapi malah sama orang baru itu gag jadi dan baliknya sama dia lagi...
huf....